Sempat Putus Sekolah Setahun, Randi dan Saudara Kembarnya Kembali Raih Harapan Lewat Sekolah Rakyat

Sabtu 04 Jul 2026, 13:53 WIB
Muhammad Randi Junaidi Siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10, Cilandak, Jakarta Selatan. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)
Muhammad Randi Junaidi Siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10, Cilandak, Jakarta Selatan. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

"Kalau fasilitas itu ada kasurnya spring bed. Terus ada AC juga. Kamar mandinya ada shower," katanya.

Dalam satu kamar asrama, jumlah penghuni bervariasi antara dua hingga empat orang.

"Kalau per kamar ada yang dua orang, ada yang tiga orang, ada yang empat orang. Itu sudah mentok empat orang," ujarnya.

Selama satu tahun bersekolah di Sekolah Rakyat, Randi mengaku mengalami banyak perubahan dalam dirinya.

"Kalau perubahan di diri saya sendiri sih banyak. Jadi saya jadi lebih disiplin. Kedua saya jadi salatnya tambah rajin. Sama membaca Qurannya juga jadi rutin," katanya.

Ia menjelaskan, di asrama terdapat aturan yang cukup ketat, termasuk terkait kewajiban salat berjamaah.

"Di sini juga kami kalau di Asrama Putra ada peraturan yang ketat. Jadi itu sama sekali kita nggak boleh ketinggalan salat satu rakaat pun. Jadi ada hukumannya," ujarnya.

Menurut Randi, sanksi yang diberikan berupa penyitaan telepon genggam selama dua hari dan piket asrama selama lima hari.

"Hukumannya tuh HP disita dua hari sama piket asrama lima hari," ucapnya.

Meski diperbolehkan membawa telepon genggam, penggunaannya dibatasi.

"HP-nya disimpan, dimaininnya Sabtu sama Minggu," katanya.

Soal uang saku, Randi mengaku biasanya mendapatkan uang dari orang tuanya saat jadwal kunjungan dua minggu sekali.


Berita Terkait


News Update