Kemacetan Jakarta Masih Tinggi, Pengamat Nilai Pengguna Transportasi Massal Belum Ideal

Sabtu 04 Jul 2026, 13:59 WIB
Ilustrasi kemacetan. (Sumber: Pinterest)
Ilustrasi kemacetan. (Sumber: Pinterest)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai angka pengguna transportasi umum di Jakarta yang disebut mencapai 27 hingga 28 persen perlu dicermati kembali. 

Menurut dia, angka tersebut kemungkinan merupakan gabungan seluruh pengguna angkutan umum, termasuk taksi dan ojek online, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan penggunaan transportasi massal yang menjadi indikator utama keberhasilan pengurangan kemacetan.

Hal itu disampaikan Deddy menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menyebut konektivitas transportasi publik di Jakarta telah mencapai sekitar 93 persen, namun jumlah masyarakat yang secara konsisten menggunakan transportasi umum masih berada di kisaran 27 hingga 28 persen.

"Sebenernya bisa, tapi jumlahnya kurang. Masih kurang banyak. Apalagi yang diinfokan Pak Gubernur itu 28 persen pengguna transportasi umum. Itu catatan kita keliru. Pengguna transportasi umum yang dihitung itu termasuk taksi dan ojek online. Padahal kalau hitungan pengguna transportasi umum massal itu hanya bus, Transjakarta, KRL, MRT, dan LRT. Kalau dihitung yang massal, menurut saya kurang lebih hanya sekitar 10 persen," ujar Deddy saat dihubungi Poskota, Sabtu.

Baca Juga: Pengamat Sebut Flyover Latumenten Belum Tentu Selesaikan Kemacetan Kawasan Grogol

Menurut Deddy, angkutan seperti taksi maupun ojek online memang termasuk transportasi umum, namun tidak dapat dikategorikan sebagai transportasi massal karena tetap menggunakan kendaraan dengan kapasitas terbatas dan berkontribusi terhadap kepadatan lalu lintas.

"Kalau taksi dan ojol walaupun itu angkutan umum, tetapi tetap sifatnya privat. Tetap membuat macet. Satu mobil satu penumpang, berbeda dengan satu bus besar yang bisa mengangkut 100 orang. Itu baru angkutan massal," kata Dedy.

Ia menjelaskan, pergerakan masyarakat di Jakarta setiap hari diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta perjalanan. Sementara jumlah pengguna transportasi massal saat ini masih jauh dari angka ideal yang dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan secara signifikan.

"Pergerakan setiap hari di DKI itu lebih dari 10 juta. Kalau kita hitung KRL sekitar satu juta penumpang, Transjakarta bisa 1,5 juta penumpang. MRT dan LRT masih sekitar ratusan ribu. Kalau ditotal semua kurang lebih sekitar 2,7 juta pengguna transportasi massal. Padahal idealnya minimal 50 persen dari total pergerakan masyarakat menggunakan transportasi umum," ujarnya.

Baca Juga: DPRD DKI Jakarta Ungkap Flyover Latumenten Dibangun dari Aspirasi Warga, Bisa Kurangi Macet 40 Persen

Deddy menilai Jakarta masih membutuhkan tambahan kapasitas angkutan massal hingga sekitar 2,3 juta sampai 2,5 juta penumpang per hari agar target pengurangan kemacetan dapat tercapai.


Berita Terkait


News Update