Karena itu, KASAI mengusulkan lima arah kebijakan dalam restorasi pertanian nasional. Pertama, memperkuat budidaya pertanian berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal.
Kedua, mendorong petani menjadi agripreneur yang memiliki kemampuan bisnis dan literasi digital.
Selanjutnya, membangun kolaborasi antara petani, pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, komunitas, dan media.
KASAI juga mendorong hilirisasi agar hasil pertanian memiliki nilai tambah lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar ekspor.
Di sisi lain, penerapan pertanian adaptif terhadap perubahan iklim atau Climate Smart Agriculture dinilai menjadi langkah penting agar sektor pertanian tetap produktif sekaligus ramah lingkungan.
Menurut Achmad, seluruh transformasi tersebut harus diperkuat dengan modal sosial berupa semangat gotong royong, saling membantu, dan budaya belajar di tengah masyarakat.
"Kami berharap transformasi ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, menggerakkan ekonomi daerah, dan menjaga kelestarian lingkungan," ucap dia.
