KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Data kepolisian mencatat sepanjang 2025 terjadi 156.253 kecelakaan lalu lintas di Indonesia dengan 235.789 korban, termasuk 21.717 korban meninggal dunia.
Sementara itu, di jalan tol yang dikelola Jasa Marga tercatat 1.119 kecelakaan yang didominasi mobil dan truk dengan mayoritas dipicu faktor pengemudi.
Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari mengatakan kondisi ini mendorong penguatan pendekatan keselamatan berbasis teknologi seperti AI, telematika, dan analitik data dalam transportasi.
Ia menegaskan, teknologi memiliki peran penting dalam meningkatkan keselamatan dan efisiensi sektor transportasi.
Baca Juga: Cara ke PIK Pakai Transportasi Umum dari Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang
“Sebagai perusahaan teknologi transportasi dan logistik berbasis Internet of Things (IoT), AI, dan Big Data, TransTRACK terus mengembangkan berbagai solusi yang membantu perusahaan meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, produktivitas armada, dan keberlanjutan bisnis,” ujar Anggia, dalam keterangannya, Senin, 22 Juni 2026.
Anggia menambahkan bahwa penguatan regulasi perlu diiringi dengan implementasi teknologi agar sistem keselamatan berjalan lebih efektif di lapangan. Hal ini dinilai penting untuk memastikan upaya pencegahan kecelakaan dapat berjalan lebih optimal melalui pemanfaatan data dan sistem pemantauan berbasis teknologi.
“Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat implementasi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 85 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU),” jelasnya, pada kegiatan Sosialisasi Penguatan Sistem Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan, beberapa waktu lalu.
Chief Operating Officer (COO) TransTRACK, Ledi Hari Setiawan, menilai tantangan keselamatan transportasi membutuhkan pendekatan modern berbasis data real-time dengan dukungan teknologi yang memberi visibilitas risiko di lapangan secara langsung.
Baca Juga: Peringatan HUT TNI, Pemprov Jakarta Berlakukan Tarif Transportasi Umum Rp80
Maka kata dia, keselamatan tidak hanya bergantung pada regulasi dan komitmen manajemen, tetapi juga teknologi untuk mendeteksi risiko secara real-time.
"Teknologi Driver Monitoring System (DMS) memungkinkan perusahaan mendeteksi berbagai kondisi berisiko, seperti kelelahan pengemudi, distraksi, penggunaan telepon seluler saat berkendara, hingga ketidakpatuhan penggunaan sabuk pengaman," beber Ledi.
Sementara itu, kata Ledi, fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS) memberikan peringatan dini terhadap potensi tabrakan, perpindahan jalur yang tidak aman, dan jarak kendaraan yang terlalu dekat.
Ledi menambahkan bahwa pendekatan keselamatan berbasis teknologi tidak hanya berfokus pada penanganan kecelakaan, tapi juga pada upaya pencegahan.
“Keselamatan tidak boleh hanya diukur dari jumlah kecelakaan yang berhasil ditangani, tetapi juga dari seberapa banyak potensi kecelakaan yang dapat dicegah,” tegas Ledi.
