Ekonomika Pancasila: Percakapan Ekonom-Politik Indonesia Terbaru

Rabu 10 Jun 2026, 19:06 WIB
Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (Sumber: Dok. Poskota)

Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (Sumber: Dok. Poskota)

Dan, itu absen dalam sekulah kita sejak merdeka, 80 tahun lalu. Akibatnya: negeri kita surplus pengkhianat dan minus patriot. Elite kita berKKN sejak dari pikiran. Mens reanya nyata.

Memang, reshuffle dapat jadi solusi jangka pendek karena itu menjadi cara paling sunyi untuk mengenang, sekaligus cara paling tabah untuk mengingat. Tetapi, di antara kisah-kisah itu pasti bukan subtansi dan struktur yang dirubah: hanya agen yang juga sering tak lebih indah.

Karenanya, kita perlu solusi komprehensif: fungsional, struktural dan subtansional. Mengapa? Karena kata sastrawan besar Ahmad Tohari (2026) ini soal misi hidup, "jadilah besar bukan karena dunia yang bantu kalian jadi besar. Tetapi, jadilah besar karena dunia tidak mampu menahan besarnya kalian."

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kini Rupiah Makin Tak Berdaulat

Dari petuah itu, tafsir singkatnya adalah: Mari temukan jati diri dan penuhi prestasi tanpa minta modal besar (harta, DNA, lingkungan, ras, spirit, klan). Kita bisa dan pasti mampu. Sebab warisan kita: modal (kekayaan), model (para patriot), dan modul (pikiran nusantara jaya) begitu nyata.

Tapi, ingatlah bahwa revolusi pikiran dan revolusi mental yang melimpah tanpa berkah hanyalah beban yang bikin lelah. Karenanya, saat datang ke rumah orang, jangan melihat seluas apa rumahnya. Tapi, lihatlah seluas apa hatinya untuk menerima ajakan revolusi pancasila untuk memperbaiki Indonesia.

Opini ini ditulis oleh CEO Nusantara Centre, Yudhie Haryono.


Berita Terkait


News Update