Ekonomika Pancasila: Percakapan Ekonom-Politik Indonesia Terbaru

Rabu 10 Jun 2026, 19:06 WIB
Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (Sumber: Dok. Poskota)

Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (Sumber: Dok. Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Sadar maupun tidak, kita telah lama menikmati sistem ekopol kasino—di mana aturan mainnya dirancang untuk menguntungkan bandar, konglomerat, oligarki, peng-peng dan orang serakah, bukan menguntungkan rakyat banyak.

Begitu lamanya tradisi sistem itu bekerja, kita sampai lupa dan tak percaya bahwa "sistem" itulah pangkal penderitaan warga negara.

Apa buktinya? Saat presiden mulai sadar walau baru ucapan, tulisan dan program, resonansinya justru umpatan dan makian. Lalu, agen-agen asing mulai masuk kembali dengan tupoksi: barat tidak tak terkalahkan.

Akhirnya, studi-studi psikologi mentalitas warga kita memberi bukti soal hipotesa bahwa ini "negeri babu bin penjilat plus pengkritik tanpa data dan kedalaman."

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Presiden dan Dekolonisasi Ekonomi

Tentu ini kerja raksasa jika ingin menghabisinya. Sebab, kaum beragama dan berpendidikan hari-hari ini hidup juga dalam tradisi: bahagia saat selainnya paria dan menangis pedih saat selainnya tertawa.

Lihat saja sikap ilmuwan dan agamawan serta serdadunya: menyetubuhi konflik, anti kritik dan saling cekik. Di manapun dan kapanpun.

Kaum penjilat neoliberal, para babu dan para kritikus tanpa data suka nggedabrus bahwa "pasar itu indah seperti pelangi dan kedaulatan negara menjijikkan seperti tinja." Akhirnya pasar liberal serakah disembah, kedaulatan dinista, diemohkan.

Sesekali kita mengaku bangsa besar tapi bertradisi dalam nalar horizon mikro. Buktinya, hobi mengimpor agama dan budaya barat sambil "jijik" pada agama sendiri dan budaya lokal yang moralis plus estetis. Bangga membuang hasil pikiran pendiri republik (konstitusi asli), sambil menjilati pikiran bangsa asing (UUD 2002).

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Selamat Datang, Ekonomi Konstitusi

Itu semua karena kita gagal membuat kurikulum agar warga negara menikam mati cita-cita nyolong, mbabu, njilat, khianat sejak dalam kandungan ibunya.


Berita Terkait


News Update