Meski harga mulai naik, Abidah tetap memilih berbelanja langsung di pasar dibanding membeli secara online. Menurutnya, berbelanja di pasar membuatnya lebih leluasa melihat kualitas barang sekaligus menawar harga.
“Kalau beli online kadang enggak sesuai gambar. Makanya lebih pilih ke pasar karena bisa lihat barang langsung dan bisa nawar,” ujarnya.
Abidah mengaku tidak terlalu mengurangi pembelian perabot rumah tangga karena barang tersebut tidak dibeli setiap hari. Namun, ia tetap merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan secara umum.
Baca Juga: Purbaya Optimistis Ekonomi RI Tetap Solid, Rupiah Lebih Kuat dari Negara Tetangga
“Dampaknya berasa banget, apa-apa sekarang mahal,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Yani, 32 tahun, yang datang mencari perlengkapan dapur untuk rumahnya. Ia menilai harga perabot rumah tangga kini semakin memberatkan konsumen.
Menurut Yani, kenaikan harga paling terasa terjadi pada barang berbahan stainless steel serta perlengkapan dapur berukuran besar seperti panci dan wajan.
“Sekarang mahal semua. Yang paling berasa itu panci sama alat dapur stainless. Dulu masih bisa beli langsung, sekarang harus mikir dulu,” ujar Yani.
Akibat kondisi tersebut, Yani mengaku mulai lebih selektif saat berbelanja dan hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
“Kalau sekarang jadi ngurangin belanja juga. Biasanya lihat ada yang bagus langsung beli, sekarang dipilih yang penting aja,” katanya.
Ia juga menyoroti meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga karena kenaikan harga tidak hanya terjadi pada perabot, tetapi juga bahan kebutuhan pokok.
“Berat sih dampaknya. Bukan cuma perabot, bahan makanan juga naik. Jadi pengeluaran rumah tangga makin banyak,” ungkap Yani. (cr-4)
