Turis Asing Berulang Dijambret, Pengamat: Citra Jakarta Kota Global Bisa Rusak

Minggu 17 Mei 2026, 13:06 WIB
Ilustrasi pelaku penjambretan WNA. (Sumber: Freepik)

Ilustrasi pelaku penjambretan WNA. (Sumber: Freepik)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna menilai kasus penjambretan di kawasan wisata Jakarta tidak bisa dianggap sepele karena berdampak pada citra ibu kota sebagai kota global dan destinasi wisata.

“Kalau kasus yang seperti itu di zona-zona wisata, penjambretan bukan hanya pada turis, tapi juga pada kalangan warga biasa. Apalagi menjelang sore atau magrib. Anak saya saja pernah dijambret di trotoar di Thamrin atau Sudirman, padahal di tempat ramai,” kata Yayat saat dihubungi, Sabtu, 16 Mei 2026.

Yayat menekankan pentingnya peningkatan pengawasan di kawasan wisata melalui patroli rutin, pemasangan CCTV, hingga keberadaan pos pengamanan sementara. Menurutnya, pelaku kejahatan berani beraksi karena merasa minim pengawasan dan memanfaatkan kelengahan korban di lokasi keramaian.

“Yang penting itu patroli. Di zona-zona wisata itu patroli ditingkatkan, CCTV ditambah. Jadi kemudian di situ juga ada pos-pos polisi, katakanlah pos jalan pakai tenda atau apa begitu," ujarnya.

Baca Juga: Penggerebekan Judi Online Internasional di Jakarta Barat Seret 321 WNA

Selain itu, kasus penjambretan terhadap wisatawan asing dapat dengan cepat menyebar ke dunia internasional melalui media sosial dan memengaruhi persepsi wisatawan terhadap keamanan Jakarta. Menurutnya, hal tersebut dapat merugikan citra Jakarta sebagai kota global dan menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung.

“Nah sekarang kan pertanyaannya, kalau misalnya Jakarta bagi turis yang pengen eksplorasi Jakarta lalu mengalami penjambretan, kesan buruknya itu bukan hanya pada diri dia, tapi seluruh dunia tahu. Dia baca TikTok, dia lihat medsos, itu viral,” ucapnya.

Selain pengawasan, Yayat juga menyoroti tingginya angka pengangguran yang dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya tindak kriminal jalanan. Ia menyebut sepeda motor dan telepon genggam menjadi sasaran utama karena mudah dijual kembali.

“Motor sama HP adalah dua benda yang paling cepat dijual dan cepat mendapatkan uang," katanya.

Baca Juga: Apartemen di Batam jadi Markas Penipuan Investasi Daring, 210 WNA Diamankan

Yayat meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta memperkuat kolaborasi dengan kepolisian serta memperbanyak CCTV di kawasan strategis seperti Monas, Thamrin, kawasan Ring 1, hingga sentra kuliner dan wisata. Menurutnya, keamanan menjadi faktor utama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang nyaman bagi wisatawan.


Berita Terkait


News Update