Menurut dia, banyak pedagang tidak berani menaikkan harga jual setinggi kenaikan harga dari tingkat jagal maupun peternak karena khawatir pembeli semakin berkurang.
Situasi ini dinilai dapat mempengaruhi penjualan hewan kurban menjelang Iduladha, terutama apabila harga sapi terus mengalami kenaikan sementara daya beli masyarakat belum pulih.
“Akibatnya pedagang mengalami penurunan pendapatan karena margin keuntungan menipis,” kata Esther.
Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan 900 Hewan Kurban, Pastikan Iduladha di Jakarta Tertib dan Ramah Lingkungan
Ekonom Sarankan Pemerintah Lakukan Intervensi Pasar
Untuk mengatasi kenaikan harga daging sapi dan menjaga daya beli masyarakat, Esther meminta pemerintah segera melakukan intervensi pasar.
Salah satu langkah yang dinilai paling cepat adalah memperkuat operasi pasar melalui Perum Bulog dengan menambah pasokan daging di tingkat pengecer.
“Operasi pasar penting untuk menjaga pasokan tetap tersedia sehingga harga tidak melonjak terlalu tinggi,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah diminta tidak hanya bergantung pada impor sapi dari Australia dan Brasil. Diversifikasi negara impor dinilai penting untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif sekaligus menjaga keamanan pasokan.
Baca Juga: Warga Habiskan Waktu Libur Iduladha di Masjid Raya Al-A’Zhom Tangerang
Esther menyarankan pemerintah mulai menjajaki impor sapi dari negara alternatif seperti Meksiko.
Di sisi lain, Esther menegaskan solusi jangka panjang tetap harus difokuskan pada penguatan produksi sapi dalam negeri. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah melindungi sapi betina produktif agar tidak dipotong.
“Populasi sapi harus dijaga. Pemerintah daerah perlu didukung anggaran untuk membeli dan merawat sapi betina produktif,” tuturnya.
