Selain berkurban di lingkungan tempat tinggalnya, Elga sebenarnya tertarik mengikuti program kurban dari sejumlah lembaga kemanusiaan yang menyalurkan daging ke wilayah terdampak konflik maupun bencana, termasuk Palestina.
Namun, ia merasa suasana kurban di lingkungan warga memiliki nilai kebersamaan yang sulit tergantikan.
“Tapi rasanya kurang sedap kalau enggak lihat langsung hewan kurban kita dan ikut bantuin pemotongan sekaligus ajang silaturahmi warga setiap tahun,” tuturnya.
Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan 900 Hewan Kurban, Pastikan Iduladha di Jakarta Tertib dan Ramah Lingkungan
Ada yang Tunda Kurban karena Fokus Persiapan Kelahiran Anak
Elga juga tidak menampik bahwa kondisi ekonomi saat ini cukup berat bagi masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar.
Meski demikian, ia mengaku telah mempersiapkan dana kurban sejak beberapa bulan sebelumnya dengan cara menyisihkan uang secara bertahap.
“Sebelumnya memang udah disiapin, dikumpulin uangnya yang buat kurban,” ucapnya.
Berbeda dengan Elga, Royyan, warga Bandung yang kini bekerja di Jakarta, mengaku belum berencana membeli hewan kurban pada Iduladha tahun ini.
Ia memilih memprioritaskan kebutuhan keluarga karena sang istri sedang hamil muda.
“Paling kalau si adik bayi udah keluar, baru buat akikahan. Sekarang masih persiapan sampai lahiran,” kata Royyan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan berkurban tahun ini sangat dipengaruhi situasi ekonomi dan kebutuhan masing-masing keluarga. Sebagian masyarakat tetap berusaha menjalankan ibadah kurban dengan solusi patungan, sementara lainnya memilih menunda demi kebutuhan yang lebih mendesak.
