POSKOTA.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah dan memunculkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi nasional serta keberlangsungan dunia usaha.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut kini mulai berdampak langsung pada sektor riil. Pelaku usaha mengaku semakin kesulitan menjaga kestabilan operasional akibat lonjakan biaya produksi dan meningkatnya tekanan terhadap arus kas perusahaan.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sarman Simanjorang, menilai kondisi ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang saling berkaitan.
Menurutnya, tekanan kurs tidak hanya memengaruhi pasar keuangan, tetapi juga mengganggu psikologi bisnis dan perencanaan perusahaan.
Baca Juga: Cara Cek BLT Kesra Mei 2026, Subsidi Rp900 Ribu Cair Lagi ke Rekening?
Efek Pelemahan Rupiah, Biaya Impor dan Logistik Melonjak

Bagi sektor usaha, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar valuta asing. Kenaikan dolar AS secara langsung meningkatkan biaya impor bahan baku, distribusi, hingga logistik internasional.
Perusahaan yang bergantung pada komponen impor menjadi pihak paling terdampak. Kenaikan biaya operasional memaksa banyak pelaku usaha mempertimbangkan penyesuaian harga jual produk di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sarman menyebut kemampuan pelaku usaha untuk menahan kenaikan biaya memiliki batas tertentu. Jika tekanan kurs terus berlanjut, kenaikan harga barang di tingkat konsumen dinilai sulit dihindari.
Kondisi tersebut juga berpotensi memicu inflasi baru dan semakin menekan konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Isu Tumbang dan Dicopot Menguat, Purbaya Justru Tampil Bugar dan Penuh Canda
UMKM Jadi Sektor Paling Rentan
Di tengah gejolak nilai tukar, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut sebagai kelompok yang paling rentan terkena dampak.
.jpg)