Polemik muncul setelah kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke pabrik PT Tirta Alam Segar di Cikarang pada April 2026.
Dalam kunjungan tersebut terungkap bahwa pasokan air baku Aquviva berasal dari pengelola kawasan industri MM2100 yang terhubung dengan Perumda Tirta Bhagasasi, perusahaan daerah air minum milik Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Fakta itu langsung memicu perdebatan di media sosial. Banyak konsumen mengaku kecewa karena sebelumnya mengira Aquviva menggunakan sumber mata air pegunungan seperti mayoritas produk AMDK premium di Indonesia.
Baca Juga: Saling Lapor! Kasus Pemukulan Bro Ron PSI Berujung Tudingan Rasisme
Masih Mau Minum? Alasan Mengapa Rasa Aquviva Disebut Mirip Air Keran
Keluhan terkait rasa Aquviva pun ramai bermunculan di platform X. Sejumlah pengguna menyebut air tersebut memiliki rasa dan aroma yang mirip air keran hingga meninggalkan sensasi tanah di lidah.
Akun @PutraSanja41702 misalnya menulis bahwa Aquviva terasa seperti memiliki “rasa tanah”. Sementara akun @wilipradewa mengaku rasa air tersebut menyerupai air keran biasa.
Komentar lain juga muncul setelah publik mengetahui sumber airnya berasal dari pengolahan PDAM. Sebagian konsumen bahkan mengaku kapok membeli ulang karena merasa tenggorokan menjadi kurang nyaman setelah mengonsumsinya.
Di Indonesia, persepsi masyarakat terhadap AMDK masih sangat erat dengan citra kemurnian mata air pegunungan. Karena itu, penggunaan air olahan non-pegunungan dianggap sebagian konsumen sebagai kompromi terhadap kualitas.
Tantangan Berat Aquviva di Pasar AMDK
Strategi harga murah memang berhasil membuat Aquviva cepat dikenal luas. Namun di industri AMDK yang sangat kompetitif, loyalitas konsumen tidak hanya bergantung pada harga, melainkan juga kualitas rasa, keamanan, dan kepercayaan terhadap sumber air.
Tanpa diferensiasi kualitas yang kuat dan citra produk yang meyakinkan, Aquviva diprediksi akan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan konsumen dalam jangka panjang.
