Angkot Lembang Bakal Ditertibkan, Dilarang Ngetem di Depan Pasar Panorama

Selasa 28 Apr 2026, 20:11 WIB
Dishub Bandung Barat melakukan survei sekaligus perbaikan jalan di kawasan Pasar Panorama Lembang. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)

Dishub Bandung Barat melakukan survei sekaligus perbaikan jalan di kawasan Pasar Panorama Lembang. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)

BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Angkutan kota (angkot) yang selama ini bebas mangkal di depan Pasar Panorama, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bakal segera ditertibkan.

Pemerintah mengarahkan seluruh angkot masuk ke terminal agar tidak lagi bikin macet dan semrawut.

Kebijakan ini mencuat setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun langsung melihat kondisi di Jalan Panorama, Senin, 27 April 2026.

Dalam sidaknya, ia bahkan sempat menemui para sopir angkot yang sedang menunggu penumpang di bahu jalan.

Baca Juga: BPBD Cimahi Siaga Kebakaran saat Kemarau, Wilayah Rawan Mulai Dipetakan

Tak berhenti di situ, perwakilan sopir angkot juga dipanggil ke Kantor Gubernur untuk mencari solusi penataan transportasi di kawasan tersebut.

Kepala Bidang Teknik Prasarana Dishub Bandung Barat, Heri Aripin, menegaskan, gubernur ingin tidak ada lagi angkot yang ngetem di depan pasar.

"Sudah jelas melanggar aturan dan bikin lalu lintas jadi semrawut," kata Heri, Selasa 28 April 2026.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah menyediakan terminal sebagai tempat resmi naik-turun penumpang. Namun, para sopir lebih memilih mangkal di depan pasar karena alasan sepi penumpang di dalam terminal.

Baca Juga: Rumah Roboh Diterjang Cuaca Ekstrem, Ibu Sani Dapat Bantuan Bedah Rumah

Tak hanya penertiban, Pemprov Jabar juga menyiapkan solusi jangka panjang. Salah satunya, mengalihkan sebagian sopir angkot menjadi pengemudi kendaraan operasional kebersihan.

Langkah ini diambil karena jumlah penumpang angkot terus menurun, seiring beralihnya masyarakat ke kendaraan pribadi. Dampaknya, pendapatan sopir makin tergerus.

Dari sekitar 130 unit angkot yang beroperasi di Lembang, rencananya hanya 50 persen yang akan tetap jalan. Sisanya akan dialihkan ke pekerjaan lain.

"Nantinya bukan jadi petugas kebersihan, tapi tetap sopir untuk kendaraan operasional sampah," ujar Heri.

Baca Juga: Sampah Pasar Rancapanggung Cililin Cemari Waduk Saguling, DLH KBB Ancam Tutup

Ia berharap, dengan pengurangan jumlah angkot, tingkat keterisian penumpang bisa meningkat. Selain itu, kemacetan dan persoalan sampah di Lembang juga bisa teratasi.

Di sisi lain, kondisi ekonomi para sopir angkot saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Penumpang makin sepi, sementara setoran ke pemilik kendaraan tetap harus dibayar.

"Sekarang setoran makin berat. Kadang nggak kejar, jadi harus nombok besoknya," tambah Heri 

Sementara itu, salah satu sopir angkot, Wa Ana 52 tahun, juga mengakui pendapatannya anjlok dibandingkan dulu. Ia pun menyambut baik rencana pemerintah membuka peluang kerja alternatif.

Dalam pertemuan itu, pemerintah juga mewacanakan penyediaan kendaraan pikap untuk operasional pengangkutan sampah di Lembang.

"Cuma teknisnya masih dibahas, termasuk jumlah unitnya," kata Ana.

Meski masih menunggu keputusan final, sekitar 50 perwakilan sopir dari berbagai trayek sudah menyatakan siap ikut program tersebut. (gat)


Berita Terkait


News Update