Langkah ini diambil karena jumlah penumpang angkot terus menurun, seiring beralihnya masyarakat ke kendaraan pribadi. Dampaknya, pendapatan sopir makin tergerus.
Dari sekitar 130 unit angkot yang beroperasi di Lembang, rencananya hanya 50 persen yang akan tetap jalan. Sisanya akan dialihkan ke pekerjaan lain.
"Nantinya bukan jadi petugas kebersihan, tapi tetap sopir untuk kendaraan operasional sampah," ujar Heri.
Baca Juga: Sampah Pasar Rancapanggung Cililin Cemari Waduk Saguling, DLH KBB Ancam Tutup
Ia berharap, dengan pengurangan jumlah angkot, tingkat keterisian penumpang bisa meningkat. Selain itu, kemacetan dan persoalan sampah di Lembang juga bisa teratasi.
Di sisi lain, kondisi ekonomi para sopir angkot saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Penumpang makin sepi, sementara setoran ke pemilik kendaraan tetap harus dibayar.
"Sekarang setoran makin berat. Kadang nggak kejar, jadi harus nombok besoknya," tambah Heri
Sementara itu, salah satu sopir angkot, Wa Ana 52 tahun, juga mengakui pendapatannya anjlok dibandingkan dulu. Ia pun menyambut baik rencana pemerintah membuka peluang kerja alternatif.
Dalam pertemuan itu, pemerintah juga mewacanakan penyediaan kendaraan pikap untuk operasional pengangkutan sampah di Lembang.
"Cuma teknisnya masih dibahas, termasuk jumlah unitnya," kata Ana.
Meski masih menunggu keputusan final, sekitar 50 perwakilan sopir dari berbagai trayek sudah menyatakan siap ikut program tersebut. (gat)
