POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Indonesia pada 2026 menaruh perhatian besar pada penguatan ekonomi akar rumput. Salah satu langkah nyatanya adalah menggulirkan program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang dirancang sebagai motor penggerak kedaulatan pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Program ini berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan melibatkan BUMN seperti PT Agrinas Pangan Nusantara.
Di tengah ambisi besar tersebut, pemerintah membuka rekrutmen nasional melalui Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) untuk mengisi berbagai posisi strategis. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah posisi Manajer Operasional di tingkat koperasi desa. Banyak lulusan sarjana (S1) membidik posisi ini karena dianggap prestisius memegang kendali penuh atas operasional unit usaha di tingkat lokal.
Namun, antusiasme tinggi ini sering kali tidak dibarengi dengan pemahaman mendalam tentang realitas pekerjaan. Tidak sedikit pelamar yang masih bertanya-tanya: seperti apa beban kerja sehari-hari? Sejauh mana wewenangnya? Dan di mana sebenarnya posisi ini akan dijalankan?
Baca Juga: Kasus Timothy Ronald Mandek, Kuasa Hukum Korban Desak Polisi Bertindak
Koperasi sebagai Pusat Logistik dan Nilai Tambah
Secara konsep, KDKMP bukan sekadar koperasi biasa. Ia dirancang sebagai pusat logistik sekaligus fasilitas pengolahan hasil pertanian. Koperasi ini bertugas menyerap hasil panen petani, mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, lalu mendistribusikannya untuk kebutuhan pasar maupun program pemerintah seperti makan bergizi gratis.
Dalam struktur ini, Manajer Operasional berperan sebagai pengendali utama. Ia memastikan seluruh proses dari pengadaan bahan baku hingga distribusi berjalan efisien dan berkelanjutan.
Koperasi ini bukan hanya tempat jual beli, tapi pusat ekonomi desa yang harus hidup dan produktif setiap hari.”
Tugas Harian yang Kompleks dan Dinamis
Jika dilihat lebih dekat, peran Manajer Operasional tidak sesederhana jabatan administratif. Tanggung jawabnya mencakup berbagai aspek krusial:
Pertama, perencanaan bisnis. Manajer harus menyusun strategi untuk mencapai target produksi, penyerapan hasil tani, dan penjualan. Target ini tidak hanya bersifat angka, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani lokal.
Kedua, pengelolaan sumber daya manusia. Ia memimpin tim yang terdiri dari kepala produksi, staf quality control, hingga administrasi keuangan. Disiplin kerja dan keselamatan menjadi tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.
Ketiga, pelaporan kinerja. Setiap aktivitas operasional harus terdokumentasi dalam laporan berkala, mulai dari arus kas hingga laba rugi, yang kemudian dilaporkan ke manajemen pusat.
Keempat, membangun relasi dengan pemangku kepentingan. Manajer menjadi wajah koperasi di hadapan kepala desa, kelompok tani (gapoktan), hingga mitra distribusi. Kemampuan komunikasi dan negosiasi menjadi kunci dalam menjaga kelangsungan bisnis.
Penempatan: Realita yang Sering Disalahpahami
Salah satu hal yang kerap menimbulkan ekspektasi keliru adalah lokasi kerja. Banyak pelamar membayangkan posisi “manajer” identik dengan kantor modern di pusat kota. Kenyataannya, posisi ini justru ditempatkan langsung di desa atau kelurahan.
Artinya, manajer akan bekerja di fasilitas koperasi yang biasanya berdekatan dengan gudang, area penggilingan, atau sentra produksi pertanian. Lingkungan kerja ini menuntut adaptasi tinggi dan kesiapan untuk terjun langsung ke lapangan.
Meski demikian, sistem rekrutmen memberikan fleksibilitas. Pelamar dapat memilih lokasi penempatan sesuai preferensi wilayah saat mendaftar, sehingga peluang bekerja di daerah asal tetap terbuka.
Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin terasa menantang. Namun di sisi lain, justru di sanalah letak nilai strategisnya. Posisi ini menawarkan pengalaman manajerial yang konkret mengelola bisnis sekaligus memberdayakan masyarakat.
Peran Manajer Operasional KDKMP pada akhirnya bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian langsung terhadap pembangunan desa. Di tangan mereka, roda ekonomi lokal berputar, dan harapan petani untuk kehidupan yang lebih baik ikut dipertaruhkan.
