PENJARINGAN, POSKOTA.CO.ID - Setiap harinya, seorang guru honorer, Abdul Azis, 45 tahun, harus menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah ke sekolah dengan mengayuh sepeda.
Ia harus mengayuh sepeda lipat dari rumahnya di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju sekolah MI Nurul Islam 1, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Hal ini terpaksa Azis lakukan sejak dirinya kehilangan satu-satunya kendaraan sepeda motor pada Desember 2025 lalu. Karena tidak punya uang, sepeda jadi alternatif dirinya untuk bisa mengajar siswa.
Sejak memakai sepeda, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dengan hanya memakan waktu 5 menit, kini harus memakan waktu sekitar 30 menit.
Baca Juga: Pemuda di Depok Ditangkap Warga usai Coba Bobol Bengkel di Serua Bojongsari
"Jadi saya kadang suka terlambat juga kalau datang ke sekolah. Kadang enggak enak sama kepala sekolah dan guru-guru yang lain," katanya kepada wartawan, Selasa, 22 April 2026.
Azis tak sendiri, ia tiap hari membonceng putri sulungnya yang juga sekolah di tempat ia mengajar. Alhasil, berangkat bareng bersama putrinya ke sekolah menjadi rutinitas.
"Anak sulung saya juga sekolah di sini, dia kelas 3. Jadi tiap hari berangkat dan pulangnya bareng saya," ungkapnya.
Jalanan Jakarta Utara yang dipenuhi dengan truk besar dan debu-debu menjadi makanan sehari-hari Azis. Ia mengaku khawatir terhadap risiko kecelakaan yang sewaktu-waktu terjadi.
Selain, beberapa kali dirinya harus melewati tanjakan yang cukup tinggi hingga membuatnya harus turun menuntun sepedanya.
"Kadang takut, khawatir kesenggol kendaraan besar. Tapi tetap dijalani," tuturnya.
Di tengah keterbatasan, Aziz sebenarnya sempat mempertimbangkan menggunakan transportasi umum seperti JakLingko. Namun, akses yang berputar dan memakan waktu lebih lama membuatnya memilih tetap bersepeda.
"Kalau naik JakLingko harus muter dulu tiga kali transit jadi malah lebih lama. Lebih efektif naik sepeda, satu jalur," jelasnya.
Baca Juga: Aksi Curanmor Bersenpi, 4 Remaja di Tangerang Dibekuk Polisi
Azis sendiri sudah menjadi guru honorer di MI Nurul Islam 1 sejak tahun 2018 dengan penghasilan yang pas-pasan yakni Rp2 juta perbulan.
"Awalnya gajinya itu Rp700 ribu. Terus meningkat tiap tahunnya dan sekarang Rp 2juta perbulan," ujar Azis.
Dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat Azis harus mencari tambahan penghasilan demi menghidupi istri dan dua anaknya. Di luar mengajar, Aziz aktif mengisi khutbah Jumat, pengajian, hingga melatih qosidah dan hadroh di majelis taklim.
“Alhamdulillah ada tambahan, walaupun tidak banyak. Bisa untuk menutup kekurangan,” katanya.
Kini, Azis hanya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap nasib guru honorer. Ia ingin kesejahteraan guru seperti dirinya dapat ditingkatkan, sehingga mereka bisa mengajar dengan lebih tenang dan layak. (pan)
