"Kadang takut, khawatir kesenggol kendaraan besar. Tapi tetap dijalani," tuturnya.
Di tengah keterbatasan, Aziz sebenarnya sempat mempertimbangkan menggunakan transportasi umum seperti JakLingko. Namun, akses yang berputar dan memakan waktu lebih lama membuatnya memilih tetap bersepeda.
"Kalau naik JakLingko harus muter dulu tiga kali transit jadi malah lebih lama. Lebih efektif naik sepeda, satu jalur," jelasnya.
Baca Juga: Aksi Curanmor Bersenpi, 4 Remaja di Tangerang Dibekuk Polisi
Azis sendiri sudah menjadi guru honorer di MI Nurul Islam 1 sejak tahun 2018 dengan penghasilan yang pas-pasan yakni Rp2 juta perbulan.
"Awalnya gajinya itu Rp700 ribu. Terus meningkat tiap tahunnya dan sekarang Rp 2juta perbulan," ujar Azis.
Dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat Azis harus mencari tambahan penghasilan demi menghidupi istri dan dua anaknya. Di luar mengajar, Aziz aktif mengisi khutbah Jumat, pengajian, hingga melatih qosidah dan hadroh di majelis taklim.
“Alhamdulillah ada tambahan, walaupun tidak banyak. Bisa untuk menutup kekurangan,” katanya.
Kini, Azis hanya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap nasib guru honorer. Ia ingin kesejahteraan guru seperti dirinya dapat ditingkatkan, sehingga mereka bisa mengajar dengan lebih tenang dan layak. (pan)
