JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena El Nino terjadi mulai pertengahan April hingga September 2026.
Kondisi ini diperkirakan membawa dampak signifikan terhadap peningkatan suhu udara, kekeringan, hingga penurunan kualitas udara yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta.
Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyampaikan bahwa El Nino ekstrem tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memicu berbagai risiko kesehatan yang saling berkaitan.
"El Nino ekstrem menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan, kekeringan, serta penurunan kualitas udara terjadi secara bersamaan dan saling memperburuk dampak terhadap kesehatan masyarakat," ucap Ani kepada awak media, Senin, 20 April 2026.
Baca Juga: Terekam CCTV, Tamu Hotel Gasak Uang dan Dokumen di Resepsionis Gunung Sahari
Menurutnya, suhu udara yang tinggi dapat berisiko meningkatkan kasus heatstroke dan dehidrasi.
"Tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru," ujar Ani.
Selain itu, Ani menyebut, kualitas udara yang menurun akibat meningkatnya partikulat halus selama musim kemarau turut berkontribusi terhadap lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"El Nino akan menjadi risiko yang berdampak pada kesehatan terutama pada populasi rentan (anak-anak dan lansia)," ungkap Ani.
Baca Juga: Hadir di Rusun Tanah Abang, PGN Pastikan Warga Paham Cara Aman Gunakan Gas Bumi
Ia menjelaskan, beberapa dampak kesehatan yang berpotensi terjadi selama periode El Nino. Salah satunya adalah dehidrasi akibat paparan suhu tinggi yang menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar.
"Pada orang yang terpapar langsung dengan suhu udara yang tinggi dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu," ujarnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, gangguan pernapasan juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
"Kemarau panjang dapat menyebabkan Polusi udara yang meningkat sehingga memperburuk kondisi pernapasan, seperti asma dan penyakit saluran pernapasan lainnya," kata Ani.
Baca Juga: Pergoki Aksi Curanmor, Petugas PPSU Jadi Korban Pemukulan
Tak hanya itu, dia menyampaikan, suhu tinggi dan kelembaban rendah juga dapat memicu masalah kulit, seperti kulit kering hingga iritasi.
"Suhu udara yang tinggi dan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan rentan terhadap iritasi," ucap dia.
Dinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, di antaranya sebagai berikut:
- Banyak Minum air: Pastikan untuk minum air yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
- Menggunakan masker: Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara.
- Menghindari aktivitas di luar: Hindari beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara sangat tinggi, terutama antara pukul 11.00-15.00 WIB.
- Gunakan pelindung diri seperti topi atau payung bila berada di luar rungan.
- Menggunakan tabir surya: Gunakan tabir surya dengan SPF yang tinggi untuk melindungi kulit dari sinar UV.
- Mengikuti informasi cuaca: Pantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG untuk mengetahui kondisi cuaca terkini. (cr-4)
