"Pada orang yang terpapar langsung dengan suhu udara yang tinggi dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu," ujarnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, gangguan pernapasan juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
"Kemarau panjang dapat menyebabkan Polusi udara yang meningkat sehingga memperburuk kondisi pernapasan, seperti asma dan penyakit saluran pernapasan lainnya," kata Ani.
Baca Juga: Pergoki Aksi Curanmor, Petugas PPSU Jadi Korban Pemukulan
Tak hanya itu, dia menyampaikan, suhu tinggi dan kelembaban rendah juga dapat memicu masalah kulit, seperti kulit kering hingga iritasi.
"Suhu udara yang tinggi dan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan rentan terhadap iritasi," ucap dia.
Dinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, di antaranya sebagai berikut:
- Banyak Minum air: Pastikan untuk minum air yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
- Menggunakan masker: Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara.
- Menghindari aktivitas di luar: Hindari beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara sangat tinggi, terutama antara pukul 11.00-15.00 WIB.
- Gunakan pelindung diri seperti topi atau payung bila berada di luar rungan.
- Menggunakan tabir surya: Gunakan tabir surya dengan SPF yang tinggi untuk melindungi kulit dari sinar UV.
- Mengikuti informasi cuaca: Pantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG untuk mengetahui kondisi cuaca terkini. (cr-4)
