Jakarta Nomor 1 Terpadat Versi PBB, Pengamat Tata Kota Sebut Daya Tampung Sudah Terlampaui

Selasa 14 Apr 2026, 15:08 WIB
Kawasan padat penduduk di Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

Kawasan padat penduduk di Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat Jakarta sebagai ibu kota terpadat di dunia dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 41–42 juta jiwa. Angka tersebut menempatkan Jakarta di posisi pertama, disusul Dhaka, Bangladesh, dengan total sekitar 36,6 juta penduduk.

Menanggapi hal itu, Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna mempertanyakan dasar perhitungan yang digunakan PBB, terutama terkait batasan wilayah yang dimaksud dalam laporan tersebut.

“Jakarta menjadi kota terpadat menurut PBB dengan jumlah 41–42 juta jiwa itu kan menjadi pertanyaan, apakah kota ini dalam konteks administrasi Jakarta atau termasuk wilayah fungsionalnya pendukung dalam satu kesatuan Greater Jakarta?” ujar Yayat kepada Poskota, Selasa, 14 April 2026.

Menurut Yayat, jika yang dimaksud adalah kawasan aglomerasi atau Greater Jakarta, maka angka tersebut masih perlu ditelusuri lebih dalam. Pasalnya, jumlah penduduk Jakarta secara administratif hanya sekitar 11 juta jiwa. Sementara itu, jika ditambah dengan wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek), totalnya diperkirakan mencapai sekitar 30 juta jiwa.

Baca Juga: 2 Kali Ledakan Diduga Dari Gas Portabel, Ketua RT Ungkap Penghuni Kos Ditemukan Tewas di Kamar Mandi

“Jadi angka 41–42 juta kan kita belum hitung. Penduduk Jakarta 11 jutaan, ditambah penduduk Bodetabek berapa? Perkiraan 30 juta. Kenapa angkanya jadi 40? Mungkin belum dihitung dengan penduduk di wilayah Purwakarta, Karawang, atau wilayah Lebak, atau wilayah sekitar Banten yang secara tidak langsung sangat terpengaruh oleh peran Jakarta,” ucap Yayat.

Ia juga menyoroti perbandingan Jakarta dengan kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan Dhaka. Menurutnya, jika Jakarta melampaui Tokyo, hal tersebut lebih disebabkan oleh faktor jumlah penduduk, bukan kualitas kota secara keseluruhan.

“Kalau misalnya Jakarta bisa melampaui Tokyo dan Dhaka kalau Tokyo saya kira wajarlah karena mengalami penurunan jumlah penduduk, jumlah kelahiran. Jadi orang-orang Jepang itu sekarang sangat memperhatikan apakah punya anak atau tidak,”ungkap Yayat. 

Lebih lanjut, Yayat menilai bahwa penurunan pertumbuhan penduduk di Jepang membuat Tokyo kalah cepat dibandingkan Jakarta dari sisi populasi. Namun, dari sisi infrastruktur dan pelayanan kota, Tokyo dinilai masih jauh lebih unggul.

Baca Juga: Diduga Terjadi Korsleting Listrik, Lima Pintu Rumah Kontrakan di Kebon Jeruk Jakbar Ludes Terbakar

“Kalau membandingkan Jakarta dengan Tokyo, kalau Jakarta dari sisi populasi, tapi kalau Tokyo infrastrukturnya bagus. Jakarta dengan Dhaka mungkin dari sisi populasinya besar, tapi dalam konteks pelayanan kotanya masih kalah dengan Tokyo. Jadi kalau dikatakan Jakarta melampaui Tokyo, ya melampauinya karena jumlah populasi penduduknya saja,” katanya.


Berita Terkait


News Update