Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, perdebatan mengenai regulasi vape masih terus berlangsung. Namun, Prof. Achmad yang juga sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menekankan bahwa prinsip kehati-hatian harus dikedepankan ketika risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Dalam perspektif keagamaan, ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan merupakan kewajiban, sebagaimana firman Allah “janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195) serta prinsip bahwa tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Ia juga menegaskan pentingnya memperhatikan apa yang dikonsumsi, sebagaimana firman Allah SWT:
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya" (QS. ‘Abasa: 24).
Menurutnya, prinsip tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh harus dipastikan tidak membawa mudarat. Jika terbukti berdampak negatif bagi kesehatan, maka sudah seharusnya ditinggalkan.
Sejalan dengan itu, ia mengutip kaidah fikih “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih”, yakni mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat.
Dukungan terhadap langkah pengendalian vape juga datang dari berbagai elemen masyarakat. RMI NU DKI Jakarta menyatakan komitmennya untuk melakukan sosialisasi bahaya vape di lingkungan pesantren dan majelis taklim.
Organisasi kepemudaan seperti HMI turut menyuarakan dukungan terhadap langkah pemerintah sebagai upaya strategis menekan penyalahgunaan zat adiktif di kalangan generasi muda.
Prof. Achmad menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia mendorong sinergi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi, regulasi, serta pengawasan.
“Menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab dan rasa syukur. Karena itu, segala sesuatu yang berpotensi merusak harus dicegah sejak dini,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika tidak dikendalikan sejak sekarang, vape berisiko berkembang menjadi krisis kesehatan baru yang mengancam kualitas satu generasi bangsa di masa depan.
