KEBON JERUK, POSKOTA.CO.ID - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta buka suara terkait kenaikan harga plastik yang dikeluhkan sejumlah pedagang.
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo menyebut kenaikan harga plastik terpantau terjadi sejak akhir Maret 2026.
Konflik geopolitik di Timur Tengah disebut menjadi pemicu terjadinya kenaikan harga plastik yang belakangan dikeluhkan sejumlah pedagang di wilayah DKI Jakarta itu.
"Kenaikan harga plastik ini terjadi sejak akhir Maret 2026 bersamaan dengan pecahnya konflik geopolitik di Iran, dan berlanjut hingga awal April 2026 ini. Kenaikan ini terjadi cukup cepat dan dalam beberapa kasus bersifat fluktuatif mengikuti distribusi barang," kata Ratu kepada Pos Kota melalui pesan singkat, Kamis, 9 April 2026.
Baca Juga: Ada Demo di Jakarta Hari Ini, 3 Titik Berpotensi Macet
"Penyebab harga plastik naik dapat kami sampaikan bahwa kenaikan harga plastik ini lebih disebabkan struktur industri plastik global yang masih sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah," tambahnya.
Secara umum, kenaikan harga plastik di Jakarta berada pada kisaran 30 persen hingga 40 persen. Kenaikan terjadi terhadap sejumlah jenis plastik yang di pasar.
Ratu menyampaikan, konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz, turut mengganggu rantai pasok global pada produk plastik. Sebab, wilayah Timur Tengah menjadi salah satu pusat produksi petrokimia dunia karena ketersediaan minyak dan gas sebagai bahan baku utama.
"Dari kawasan ini diproduksi berbagai resin (biji plastik) utama seperti Polyethylene (PE), Polypropylene (PP), Polyethylene Terephthalate (PET), dan Polystyrene (PS)," jelas dia.
Baca Juga: Adanya Permintaan Penambahan Jam Operasional, ini Jawaban LRT Jabodebek
Adapun, keempat jenis resin tersebut merupakan bahan dasar utama industri plastik sehari-hari, termasuk yang digunakan oleh pedagang di wilayah Jakarta.
"Secara kewilayahan, Jakarta Barat dan Jakarta Utara menunjukkan kenaikan harga yang cenderung lebih tinggi dibanding wilayah lainnya," kata Ratu.
"Kenaikan harga ini mengindikasikan adanya tekanan pada sisi pasokan dan distribusi, serta kemungkinan peningkatan permintaan di pasar," sambungnya.
Ratu menyampaikan bahwa plastik kemasan sederhana yang digunakan khususnya pedagang UMKM di Jakarta sangat bergantung pada rantai pasok global ini.
Baca Juga: TPA Liar di Serua Depok Ditutup Usai Dikeluhkan Warga Berbau Menyengat
Sementara saat ini produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar kurang lebih 40 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional.
"Sisanya, sekitar kurang lebih 60 persen masih dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk resin maupun bahan turunan lainnya. Impor ini sebagian besar berasal dari Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar. Lalu negara produsen lain di Asia seperti Korea Selatan dan Singapura," kata Ratu.
Meski demikian, Ratu menambahkan, Dinas PPKUKM mencoba menjaga stabilisasi harga bahan baku plastik di Jakarta. Pihaknya juga fokus menahan laju inflasi daerah khususnya dari sektor pangan dan kebutuhan dasar masyarakat.
"Kami juga akan memperkuat monitoring harga di tingkat pasar dan distributor untuk memastikan tidak terjadi lonjakan yang tidak wajar, melakukan koordinasi dengan pelaku usaha dan distributor guna menjaga ketersediaan barang di lapangan," tutur dia.
"Serta mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga makanan dan minuman, terutama yang dikonsumsi masyarakat luas," sambungnya.
Baca Juga: Relokasi Warga Kampung Bilik Jakbar, Pengamat Tata Kota Berikan Sejumlah Catatan ke Pemprov DKI
Lebih lanjut, salah satu pedagang nasi pecel di Jakarta Barat, Kusni, 46 tahun mengaku resah dengan kenaikan harga plastik. Menurutnya, kenaikan harga sudah sangat tinggi.
"Naik udah dua kali lipat, pecel kan sambalnya gak bisa dijadiin satu kayak nasi warteg, beda, jadi harus dipisah," tuturnya.
Namun demikian, Kusni mengaku sampai hari ini enggan menaikkan harga pecel yang dia jual karena tidak mau kehilangan pelanggan. Apalagi ia menyadari sekarang ini kondisi ekonomi masyarakat juga sedang susah.
"Kalau dinaikin ya pelanggan lari, malah kabur ke warung lain," keluhnya.
Dewi, pedagang plastik di Pasar Palmerah juga mengeluhkan kenaikan harga yang terjadi. Menurut dia, kenaikan harga plastik terjadi secara bertahap dan saat ini nyaris dua kali lipat misalnya untuk gelas plastik minuman.
"Gelas plastik kan biasanya 15 ribu, kemarin sempat jual 17 ribu,18 ribu, sekarang 20 ribu," ungkap dia. (pan)
