Pedagang di Jakarta Keluhkan Kenaikan Harga Plastik

Jumat 10 Apr 2026, 12:49 WIB
Pedagang plastik di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Pedagang plastik di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

"Secara kewilayahan, Jakarta Barat dan Jakarta Utara menunjukkan kenaikan harga yang cenderung lebih tinggi dibanding wilayah lainnya," kata Ratu.

"Kenaikan harga ini mengindikasikan adanya tekanan pada sisi pasokan dan distribusi, serta kemungkinan peningkatan permintaan di pasar," sambungnya.

Ratu menyampaikan bahwa plastik kemasan sederhana yang digunakan khususnya pedagang UMKM di Jakarta sangat bergantung pada rantai pasok global ini.

Baca Juga: TPA Liar di Serua Depok Ditutup Usai Dikeluhkan Warga Berbau Menyengat

Sementara saat ini produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar kurang lebih 40 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional.

"Sisanya, sekitar kurang lebih 60 persen masih dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk resin maupun bahan turunan lainnya. Impor ini sebagian besar berasal dari Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar. Lalu negara produsen lain di Asia seperti Korea Selatan dan Singapura," kata Ratu.

Meski demikian, Ratu menambahkan, Dinas PPKUKM mencoba menjaga stabilisasi harga bahan baku plastik di Jakarta. Pihaknya juga fokus menahan laju inflasi daerah khususnya dari sektor pangan dan kebutuhan dasar masyarakat.

"Kami juga akan memperkuat monitoring harga di tingkat pasar dan distributor untuk memastikan tidak terjadi lonjakan yang tidak wajar, melakukan koordinasi dengan pelaku usaha dan distributor guna menjaga ketersediaan barang di lapangan," tutur dia.

"Serta mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga makanan dan minuman, terutama yang dikonsumsi masyarakat luas," sambungnya.

Baca Juga: Relokasi Warga Kampung Bilik Jakbar, Pengamat Tata Kota Berikan Sejumlah Catatan ke Pemprov DKI

Lebih lanjut, salah satu pedagang nasi pecel di Jakarta Barat, Kusni, 46 tahun mengaku resah dengan kenaikan harga plastik. Menurutnya, kenaikan harga sudah sangat tinggi.

"Naik udah dua kali lipat, pecel kan sambalnya gak bisa dijadiin satu kayak nasi warteg, beda, jadi harus dipisah," tuturnya.


Berita Terkait


News Update