Di pesantren tersebut, ia memiliki peran penting dalam membina para santri, mengajar ilmu-ilmu keislaman, serta mengembangkan sistem pendidikan berbasis kitab kuning.
Perannya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang turut membentuk karakter generasi muda.
Kiprahnya di dunia pesantren menjadikan Ra Mamak sebagai salah satu tokoh yang cukup disegani di kalangan masyarakat, khususnya di wilayah Madura.
Tak hanya berkutat di lingkungan pesantren, Ra Mamak juga aktif dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
Dia juga tercatat sebagai bagian dari kepengurusan NU di Sumenep. Keterlibatan ini memperluas perannya tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai tokoh yang berkontribusi dalam dinamika sosial dan keagamaan di masyarakat.
Melalui organisasi tersebut, Ra Mamak turut terlibat dalam berbagai kegiatan keumatan, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga isu-isu sosial yang berkembang di tingkat lokal maupun nasional.
Menariknya, kiprah Ra Mamak tidak hanya terbatas di bidang keagamaan. Dirinya pernah masuk dalam bursa calon Bupati Sumenep pada Pilkada 2020.
Meski tidak melaju hingga tahap akhir, langkah tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki potensi dan kapasitas sebagai pemimpin publik.
Kehadirannya dalam bursa politik lokal juga menandakan adanya dukungan dan kepercayaan dari masyarakat terhadap sosoknya.
Salah satu keunggulan Ra Mamak yang mencuri perhatian adalah kemampuannya dalam menguasai berbagai bahasa asing.
Kemampuan ini menjadi nilai tambah, terutama dalam konteks dakwah dan komunikasi global. Dia diketahui menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis.
Keahlian tersebut tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuka peluang untuk menjalin relasi yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
