"Pertandingan bukan hanya soal di lapangan, tapi juga bagaimana seluruh ekosistemnya dikelola secara bertanggung jawab," kata Adit, Senin 6 April 2026.
Ia juga menegaskan bahwa GBLA bukan sekadar stadion, melainkan rumah bagi PERSIB dan Bobotoh.
"Menjaga kebersihan GBLA berarti menjaga kenyamanan, keselamatan, dan martabat PERSIB," ucapnya.
Baca Juga: Kronologi Pesta Pernikahan di Purwakarta Berujung Maut
Tren pengelolaan sampah ini juga terlihat konsisten di laga-laga sebelumnya. Di antaranya saat melawan Persija Jakarta mencapai 6.571 kg, kontra PSM Makassar 4.972 kg, hingga menghadapi Persebaya Surabaya sebanyak 1.564 kg.
Melalui kampanye ‘JagaGBLAJagaPERSIB’, manajemen terus mengajak Bobotoh untuk ikut menjaga kebersihan stadion.
Mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga menjaga fasilitas, jadi bagian penting dukungan di luar lapangan.
GBLA bukan hanya tempat bertanding, tapi juga simbol kebanggaan.
"Menjaganya berarti ikut merawat masa depan PERSIB," tuturnya. (gat)
