POSKOTA.CO.ID - Kementerian Agama (Kemenag) RI terus menggencarkan program pembinaan keluarga sebagai respons atas tingginya angka perceraian di Jawa Barat.
Lonjakan kasus yang hampir menyentuh angka 100 ribu menjadi peringatan serius bagi ketahanan keluarga, khususnya di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia tersebut.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Barat, Dudu Rahman, mengungkapkan bahwa angka perceraian di wilayahnya masih tergolong tinggi, yakni mencapai lebih dari 98.903 kasus. Angka tersebut mencerminkan kompleksitas persoalan sosial dan ekonomi yang berdampak pada kehidupan rumah tangga.
“Angka perceraian di Jawa Barat juga tergolong tinggi, mencapai lebih dari 98.903 kasus. Berbagai faktor menjadi penyebab, mulai dari persoalan ekonomi hingga konflik rumah tangga, dengan sekitar 40 persen gugatan diajukan oleh pihak istri,” ujarnya dalam siaraan pers Kemenag dikutip Poskota, Senin, 6 April 2026.
Baca Juga: Pemkab Lebak Berlakukan WFH untuk ASN Setiap Hari Jumat kecuali Dinas Tertentu
KUA Jadi Ujung Tombak Pembinaan

Dudu menegaskan, tingginya angka perceraian menjadi alasan kuat untuk memperkuat peran Kantor Urusan Agama (KUA).
Selama ini, KUA dikenal sebagai lembaga pencatatan pernikahan, namun kini fungsinya diperluas menjadi pusat pembinaan keluarga berkelanjutan.
Menurutnya, KUA memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan layanan keagamaan di tingkat kecamatan.
“Kita harus memperkuat pembinaan agar keluarga yang terbentuk benar-benar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah,” tambahnya.
Baca Juga: 200 Ribu Wisatawan Kunjungi Pandeglang selama Libur Lebaran, Pantai jadi Destinasi Favorit
Transformasi Layanan Keluarga di KUA
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag, Ahmad Zayadi, menambahkan bahwa penguatan peran KUA menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai persoalan keluarga di masyarakat.
