Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan MUI soal Hilal

Rabu 18 Mar 2026, 12:32 WIB
Ilustrasi - Potensi perbedaan Idul Fitri 2026 muncul akibat posisi hilal yang masih rendah. MUI meminta masyarakat menunggu hasil sidang isbat pemerintah dan menjaga toleransi. (Sumber: Gemini AI)

Ilustrasi - Potensi perbedaan Idul Fitri 2026 muncul akibat posisi hilal yang masih rendah. MUI meminta masyarakat menunggu hasil sidang isbat pemerintah dan menjaga toleransi. (Sumber: Gemini AI)

POSKOTA.CO.ID - Menjelang akhir Ramadan 1447 Hijriah, potensi perbedaan Lebaran 2026 mulai menjadi perhatian publik. Sejumlah perhitungan astronomi menunjukkan kemungkinan adanya perbedaan awal 1 Syawal di Indonesia.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan perbedaan perayaan Lebaran antara pemerintah dan sebagian organisasi keagamaan.

Meski demikian, perbedaan tersebut merupakan hal yang kerap terjadi dan telah menjadi dinamika dalam penentuan kalender Hijriah di Tanah Air.

Menanggapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah sebagai penentu resmi. Umat Muslim juga diajak untuk menjaga sikap saling menghormati jika nantinya terjadi perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga: Ramadhan Hampir Usai, Sudahkah Kita Meninggalkan Jejak Amal yang Bermakna?

Sidang Isbat Digelar 19 Maret 2026

Pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat pada Kamis, 19 Maret 2026 di Kantor Kementerian Agama, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Hasil sidang ini nantinya akan menjadi acuan resmi penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.

Di tengah potensi perbedaan Lebaran, MUI juga mengajak masyarakat untuk saling menghormati apabila terdapat perbedaan dalam penetapan hari raya.

Posisi Hilal Masih Rendah di Sebagian Besar Wilayah

Menurut penuturan Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, berdasarkan perhitungan ilmu falak, fenomena ijtimak atau pertemuan matahari dan bulan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.25.

Setelah matahari terbenam, posisi hilal dilaporkan sudah berada di atas ufuk. Namun, ketinggiannya masih tergolong rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, yakni hanya berkisar antara 1 hingga 2 derajat dan bertahan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam.

"Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh, dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," kata Kiai Cholil dilansir dari situs resmi MUI, Rabu, 18 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menandakan hilal sebenarnya sudah berada di atas ufuk, namun visibilitasnya masih sangat terbatas.

"Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis," sambung Kiai Cholil.

Baca Juga: Bolehkah Awal Puasa Ikut Muhammadiyah, Tapi Lebaran Mengikuti NU? Ini Penjelasan Fikihnya

Masih di Bawah Kriteria Imkanur Rukyat

Lebih lanjut, Indonesia menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS sebagai acuan penentuan awal bulan Hijriah. Standar ini merupakan kesepakatan antara Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara hasil perhitungan di Aceh menunjukkan tinggi hilal 2,51 derajat dan elongasi 6,09 derajat, yang berarti masih sedikit di bawah batas yang ditetapkan.

"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," tegas Waketum MUI tersebut.

Baca Juga: Lebaran 2026 Hari Jumat atau Sabtu? Ini Jadwal Pemerintah dan Muhammadiyah

Penentuan Lebaran Tetap Menunggu Hasil Rukyat

Dengan kondisi tersebut, secara hisab hilal memang sudah berada di atas ufuk. Namun, hampir di seluruh wilayah Indonesia ketinggiannya masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.

Karena itu, keputusan akhir penentuan 1 Syawal tetap akan bergantung pada hasil rukyat atau pengamatan langsung di lapangan serta keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat.

"Oleh karena itu, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan sidang isbat pemerintah," kata Kiai Cholil.

Sebagai penutup, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga toleransi dan persatuan, meskipun terdapat potensi perbedaan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri 2026.


Berita Terkait


News Update