POSKOTA.CO.ID - Perbedaan penentuan awal puasa dan Hari Raya Idul Fitri hampir selalu menjadi topik yang ramai dibicarakan setiap bulan Ramadhan di Indonesia.
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah: bolehkah seseorang memulai puasa mengikuti Muhammadiyah, tetapi merayakan Lebaran bersama Nahdlatul Ulama (NU)?
Sebagian orang menyampaikan pertanyaan ini dengan nada bercanda. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar ingin memahami bagaimana pandangan fikih Islam terhadap praktik tersebut.
Perbedaan waktu awal Ramadhan dan Idul Fitri sendiri bukan hal baru dalam tradisi Islam, melainkan bagian dari khazanah ijtihad ulama sejak lama.
Ini hukum mengikuti metode yang berbeda dalam awal puasa dan Lebaran, berdasarkan pandangan fikih dan praktik yang berlaku di Indonesia.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Adzan Subuh Wilayah DKI Jakarta Rabu 18 Maret 2026
Perbedaan Metode Penentuan Awal Ramadhan
Salah satu penyebab munculnya perbedaan awal puasa adalah perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Di Indonesia, dua organisasi Islam terbesar memiliki pendekatan yang berbeda.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan. Metode ini dikenal dengan istilah hisab wujudul hilal. Dengan perhitungan ini, kalender Hijriah bahkan dapat ditentukan jauh hari sebelum Ramadhan tiba.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap munculnya bulan sabit pertama setelah matahari terbenam. Meski demikian, pengamatan tersebut tetap didukung oleh perhitungan hisab sebagai panduan awal.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama biasanya menggabungkan kedua metode tersebut melalui sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah secara nasional.
