Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU

Senin 16 Mar 2026, 14:50 WIB
Peneropongan Hilal (Foto: Kemenag)

Peneropongan Hilal (Foto: Kemenag)

Peneliti astronomi Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa posisi hilal pada saat maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS.

“Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, sehingga 1 Syawal 1447 diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026,” jelasnya.

Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.

Namun ia juga menambahkan bahwa jika menggunakan kriteria lain seperti yang diterapkan di Turki, hasilnya bisa berbeda.

“Menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 dapat jatuh pada 20 Maret 2026.”

Analisis Data Hilal dari BMKG

Data astronomi juga dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan perhitungan BMKG, ketinggian hilal saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berada pada kisaran:

  • 0,91 derajat di Merauke
  • 3,13 derajat di Sabang

Sementara sudut elongasi diperkirakan berada pada rentang 4,54 hingga 6,1 derajat.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria visibilitas hilal. Karena itu, kemungkinan besar hilal tidak dapat diamati pada tanggal tersebut.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari dan Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

BMKG juga mengingatkan bahwa pengamatan hilal dapat dipengaruhi objek astronomi lain seperti planet terang atau bintang yang posisinya dekat dengan Bulan.

Penetapan Muhammadiyah

Sementara itu, organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Lebaran menggunakan metode hisab.


Berita Terkait


News Update