Meskipun sangat dianjurkan, para ulama menjelaskan bahwa iktikaf bukanlah syarat mutlak untuk meraih Lailatul Qadar.
Penulis Abu Maryam Kautsar Amru dalam bukunya Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki kesempatan mendapatkan malam penuh kemuliaan tersebut selama mereka menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah.
Hal senada disampaikan oleh Ahmad Zarkasih dalam buku Nawaitu Shauma Ghadin Adakah Dalilnya. Ia menegaskan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar tidak terbatas pada iktikaf di masjid.
“Ibadah tidak harus iktikaf. Bahkan pandangan yang masyhur menyebutkan bahwa salat tarawih pada malam itu sudah termasuk ibadah yang dapat mengantarkan seseorang meraih kemuliaan malam tersebut,” jelasnya.
Artinya, iktikaf merupakan cara terbaik untuk fokus beribadah, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar.
Kesempatan Bagi Mereka yang Memiliki Udzur
Rahmat Allah SWT pada malam Lailatul Qadar sangat luas. Kesempatan untuk mendapatkan keutamaannya tidak hanya diberikan kepada orang yang mampu beriktikaf di masjid.
Dalam kitab Al-Lathaif Al-Ma’arif, ulama Ad-Dhahaak pernah ditanya mengenai orang-orang yang memiliki udzur syar’i seperti wanita haid, musafir, atau orang yang sedang sakit.
Ia menjawab:
“Siapa saja yang Allah terima amalannya, maka dia akan mendapatkan bagian dari malam tersebut.”
Jawaban ini menunjukkan bahwa peluang meraih Lailatul Qadar tetap terbuka bagi siapa saja yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, meskipun tidak berada di masjid.
Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
Ustaz Adi Hidayat juga menegaskan bahwa tempat bukanlah faktor utama dalam meraih kemuliaan Lailatul Qadar.
Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana seseorang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah yang maksimal.
