Tanpa kebijakan WFA, jumlah pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 4,4 juta orang. Namun setelah penerapan kebijakan tersebut, angka mobilitas diprediksi meningkat hingga 8,9 juta orang.
Dudy menilai peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memanfaatkan fleksibilitas kerja untuk melakukan perjalanan lebih awal.
“Jadi hampir 100 persen peningkatan. Kami berharap ini bisa tertangani dengan baik sehingga menghindari penumpukan pada tanggal 16 maupun 18,” katanya.
Baca Juga: Jalur Utama di Jawa Barat yang Diprediksi Macet Saat Mudik Lebaran, Cek Rute Alternatifnya
Arus Balik Diprediksi Terjadi 25–27 Maret
Selain memprediksi puncak arus mudik, Kemenhub juga telah menetapkan periode arus balik Lebaran yang diperkirakan terjadi pada 25 hingga 27 Maret 2026.
Namun demikian, potensi penumpukan penumpang diprediksi sudah mulai terjadi pada 24 Maret 2026, bertepatan dengan berakhirnya masa cuti bersama.
“Arus kembali akan kita berlakukan pada tanggal 25, 26, dan 27 Maret. Kami memprediksi penumpukan sudah mulai terjadi pada tanggal 24 saat cuti bersama selesai,” ungkap Dudy.
Untuk memastikan kelancaran perjalanan mudik dan arus balik Lebaran, Kementerian Perhubungan juga menyiapkan berbagai sarana transportasi dalam jumlah besar.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Lebih Hemat! Ini Daftar Diskon Tarif Tol Trans Jawa dan Perhitungannya
Beberapa armada transportasi yang disiapkan antara lain:
- 31.300 unit bus
- 841 kapal laut
- 254 kapal penyeberangan (ferry)
- 372 pesawat
- 3.893 gerbong kereta api
Menurut Dudy, seluruh armada tersebut dipersiapkan untuk memastikan masyarakat dapat melakukan perjalanan mudik dan kembali dengan aman serta nyaman.
“Diharapkan semua sarana transportasi tersebut dapat melayani masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik maupun arus balik,” pungkasnya. (cr-4)
