Putra Ali Khamenei Naik Tahta Jadi Pemimpin Iran, AS dan Isreal gagal total. (Sumber: X/@Sans_Concession)

Internasional

Putra Ali Khamenei Naik Tahta Jadi Pemimpin Iran, AS dan Israel Dicap Gagal Total

Selasa 10 Mar 2026, 17:17 WIB

POSKOTA.CO.ID - Teheran menunjukkan ketangguhan luar biasa di tengah eskalasi konflik regional.

Meskipun Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, rezim Islam Iran justru mempercepat suksesi kepemimpinan.

Langkah ini menjadi tamparan keras bagi upaya destabilisasi yang digelar Washington dan sekutunya.

Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran

Majelis Ahli Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. (Sumber: X/@actuenvif)

Majelis Ahli Iran secara resmi melantik Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran pada Senin, 9 Maret 2026.

Baca Juga: Update Konflik Timur Tengah: 926 Tewas Akibat Serangan AS dan Israel ke Iran

Penunjukan ini terjadi hanya sepuluh hari setelah kematian ayahnya, menandakan soliditas struktur kekuasaan ulama di Teheran. Proses suksesi berjalan cepat dan tegas, mengabaikan tekanan eksternal.

Pemilihan Mojtaba menegaskan bahwa Iran tidak berniat mundur atau berkompromi di bawah ancaman militer.

Penghinaan Besar bagi Strategi AS

Para analis menyebut suksesi ini sebagai "penghinaan besar" bagi Amerika Serikat. Washington telah mengerahkan sumber daya militer besar-besaran, termasuk kapal induk dan operasi udara intensif, dengan tujuan menggoyang fondasi rezim Iran.

Namun, hasilnya justru sebaliknya: posisi Pemimpin Tertinggi digantikan oleh figur yang dinilai lebih garis keras.

Peneliti senior Middle East Institute, Alex Vatanka, menyatakan kepada media internasional bahwa operasi besar-besaran AS hanya berhasil menewaskan pemimpin berusia 86 tahun, sementara penggantinya diprediksi jauh lebih tegas dan anti-Barat.

Ironisnya, upaya mahal ini gagal memicu keruntuhan rezim, malah memperkuat posisi faksi keras di Iran.

Baca Juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah RI Lakukan Negosiasi

Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat meremehkan Mojtaba sebagai figur "enteng" dan menyatakan suksesi harus melalui persetujuannya. Nyatanya, Teheran mengabaikan gertakan tersebut sepenuhnya.

Mojtaba: Pemimpin Garis Keras dengan Ikatan Kuat IRGC

Berbeda dari ayahnya, Mojtaba dikenal memiliki hubungan organik mendalam dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.

Penunjukannya diyakini akan memperluas pengaruh IRGC dalam urusan negara, termasuk pengawasan domestik yang lebih ketat di tengah krisis ekonomi yang melanda Iran.

Paket analis seperti Alan Eyre, mantan diplomat AS dan pakar Iran, memperingatkan bahwa dunia mungkin akan "merindukan" era Ali Khamenei.

Mojtaba diprediksi memerintah dengan tangan besi untuk mengonsolidasikan kekuasaan, didorong oleh dendam pribadi dan komitmen ideologis yang lebih kuat.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik hingga Idulfitri 2026

Pintu Diplomasi Tertutup Rapat

Peneliti senior Paul Salem menegaskan bahwa kepemimpinan Mojtaba menutup peluang diplomasi dengan Washington. Sosok ini bukan tipe yang mau duduk di meja perundingan atau mencari kompromi damai.

Di tengah lonjakan harga minyak global akibat ketegangan di Selat Hormuz, dunia kini menghadapi prospek konfrontasi berkepanjangan.

Pilihan Teheran terhadap figur konfrontatif membuktikan bahwa operasi militer AS-Israel gagal mencapai tujuan utama: menggoyahkan pondasi kekuasaan ulama di Iran.

Keputusan ini tidak hanya menunjukkan resiliensi rezim, tapi juga mengirim sinyal kuat bahwa Iran siap melanjutkan perlawanan tanpa kompromi.

Tags:
Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam IranIslam IranAS-IsraelAyatollah Ali KhameneiTeheran

Insan Sujadi

Reporter

Insan Sujadi

Editor