Menurut dokumen diplomatik AS yang bocor melalui WikiLeaks, Mojtaba digambarkan sebagai manajer tegas yang represif. Ia dijuluki "penjaga gerbang utama" karena pengaruh besarnya terhadap komandan Pasukan Quds dan organisasi paramiliter Basij.
Nama Mojtaba sering muncul dalam kontroversi pemilu presiden 2005 dan 2009, terutama terkait dukungannya terhadap Mahmoud Ahmadinejad.
Ia bahkan mendapat julukan "anak tuan" dari rival politik seperti Mahdi Karroubi. Bagi Ali Khamenei, Mojtaba bukan sekadar putra, melainkan pewaris yang siap mengambil alih kendali.
Pada 2019, pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadapnya karena dianggap mendukung ambisi regional Iran yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan serta menekan demonstrasi domestik melalui Basij.
Baca Juga: Bagaimana Nasib Piala Dunia 2026 Usai Konflik AS-Iran? Begini Kata FIFA
Tantangan Besar di Tengah Konflik Terbuka
Kini, Mojtaba mewarisi posisi tertinggi di saat Iran berada dalam posisi paling sulit. Sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan IRGC, ia memimpin negara di tengah perang terbuka melawan aliansi AS-Israel yang menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur vital Teheran.
Tragedi semakin berat setelah istri Mojtaba, Zahra Haddad Adel, juga tewas dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya. Kini, ia berdiri sendirian di puncak kekuasaan, menghadapi tekanan global yang semakin berat.
Pengamat internasional mempertanyakan arah kepemimpinan baru ini: akankah Mojtaba memilih jalur diplomasi untuk meredakan konflik, atau justru memperkuat sikap perlawanan keras guna mempertahankan ideologi revolusi Islam?
Penunjukannya menandakan kelanjutan garis keras, namun juga menguji ketahanan sistem teokrasi Syiah Iran di era perang modern.
