“Semalam dari status anak angkat saya. Lalu anak saya telepon istrinya. Dia bilang, ‘Mah, Buyung kena longsor’,” tutur Fatimah.
Mendengar kabar tersebut, Fatimah langsung berangkat dari Bogor menuju Bantargebang untuk memastikan kondisi menantunya.
“Terus Ibu berangkat dari Bogor ke sini. Kalau anak tinggalnya di Semper, Asrama DKI, Semper Barat,” katanya.
Selama bekerja lebih dari 20 tahun di Bantargebang, Riki disebut tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya kepada keluarga.
Menurut Fatimah, menantunya juga jarang menceritakan kondisi kerja yang berisiko di lokasi pengolahan sampah tersebut.
“Dua puluh tahun lebih sampai sekarang. Nggak pernah ngeluh. Dari bujangan memang sudah kerja di sini. Teman-temannya juga banyak di sini,” ujarnya.
Baca Juga: Longsor Sampah Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Pramono Anung Ungkap Pemicu Utamanya
Pesan Terakhir: “Mama, Ini Nomor Buyung”
Fatimah juga mengungkapkan percakapan terakhirnya dengan Riki terjadi beberapa waktu sebelum bulan puasa. Saat itu, Riki hanya mengirim pesan singkat untuk memberitahukan nomor telepon barunya.
“Waktu pertama dia chat sebelum puasa. Dia bilang, ‘Mama, ini nomor Buyung.’ Saya bilang, ‘Iya Mama simpan ya.’ Saya juga nggak menyangka akan terjadi seperti ini,” ungkapnya.
Sementara itu, komunikasi terakhir Riki dengan istrinya terjadi pada Sabtu ketika ia sudah tiba di lokasi kerja. Saat itu Riki sempat melakukan panggilan video.
“Kalau sama istrinya ya kemarin sebelum berangkat. Waktu sudah di sini, hari Sabtu dia video call,” kata Fatimah.
