Setelah Perang Dunia I berakhir, Kekaisaran Ottoman berada di ambang kehancuran.
Perjanjian damai 1920 memecah wilayah Ottoman dan memberi kendali besar kepada Sekutu atas sisa wilayah Turki.
Namun Mustafa Kemal membentuk gerakan nasionalis berbasis di Ankara untuk menolak pembagian wilayah tersebut.
Pemerintahan sultan di Istanbul bahkan menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara in absentia, tetapi ia justru mendapat dukungan luas dari militer dan rakyat.
Baca Juga: As-Israel Serang Iran, Ledakan Besar Terdengar di Teheran
Pasukannya berhasil mengalahkan Armenia di timur serta memaksa Prancis dan Italia mundur dari selatan.
Pada 1921, dalam Pertempuran Sakarya, pasukan Turki di bawah komandonya menghentikan laju Yunani. Setahun kemudian, serangan balasan memaksa Yunani mundur hingga ke Smyrna (Izmir).
Konflik tersebut memicu eksodus besar-besaran penduduk Yunani dan Armenia. Ketegangan etnis dan perpindahan paksa menjadi bagian kelam dari periode ini.
Lahirnya Republik Turki
Pada Juli 1923, perjanjian damai baru mengakui kedaulatan Turki sebagai negara merdeka.
Tak lama kemudian, Majelis Agung Nasional memproklamasikan Republik Turki dan memilih Mustafa Kemal sebagai presiden pertama.
Sultan terakhir Ottoman melarikan diri, menandai berakhirnya era monarki yang telah berkuasa selama berabad-abad.
Reformasi Sekularisasi dan Westernisasi
Sebagai presiden, Ataturk meluncurkan reformasi radikal:
