JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu), Dino Patti Djalal menyoroti rencana Presiden Prabowo Subianto menghentikan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Menurut Dino, Prabowo dituntut bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam rangkaian menyetop serangan ke negara Timur Tengah tersebut. Ia menyebutkan, Israel adalah pelaku utama penyerangan.
"Upaya mediasi, berarti Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel Netanyahu sebagai pihak paling utama yang menyerang Iran," kata Dino dalam unggahan Instagram @dinopattidjalal, Minggu, 1 Maret 2026.
Hanya saja, langkah tersebut akan mencederai citra politik Prabowo di dalam negeri. Dino menegaskan, sang presiden bunuh diri secara politik jika upaya mediasi benar-benar dilakukan.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Profil dan Jejak 36 Tahun Kepemimpinannya di Iran
"Secara politik, diplomatik, dan logistik tidak mungkin terjadi. Dan ini akan menjadi political suicide atau bunuh diri politik Prabowo di dalam negeri," ujarnya.
Ego AS Terlalu Besar
Sementara itu, Dino meyakini AS yang dipimpin Presiden Donald Trump enggan menghentikan operasi militer ke Iran meski dimediasi negara lain sekalipun Indonesia berada dalam Board of Peace.
"Dalam melakukan serangan militer kepada musuhnya, AS jarang sekali mau ditengahi atau dimediasikan oleh pihak ketiga," ucap mantan Duta Besar Indonesia untuk AS itu.
Ia menilai, ego AS yang berstatus negara adikuasa begitu besar untuk menerima masukan. Sementara itu, Trump juga sedang dibutakan ambisi menumbangkan pemerintah Iran.
Baca Juga: 14 Tahun Lalu Cak Nun Prediksi Iran Diserang Israel dan AS, Kini Konflik Benar-Benar Pecah
"Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu. Dan saya juga meyakini Presiden Trump tidak mau Indonesia ikut campur, karena mood-nya sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran," tuturnya.
Di samping itu, Trump juga tengah berambisi mengalihkan perhatian publik terhadap Epstein Files yang bocor belakangan ini. Dokumen gelap tersebut diduga menyeret keterlibatan sejumlah pesohor dalam beberapa skandal, termasuk Presiden AS itu.
"Menarik dicatat, sejumlah teman saya di Washington DC memberi tahu saya serangan AS kepada Iran merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari Epstein Files," tuturnya.