JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Imas Damayanti bersyukur meski sempat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), ia dan suaminya mampu bertahan, bahkan kini bisa memberikan pekerjaan bagi rekan-rekan yang bernasib sama.
Di tengah kondisi baru melahirkan secara sesar dan tanpa pemasukan tetap, ibu dua anak itu harus memikirkan cara bertahan hidup sekaligus memulihkan kondisi fisiknya.
“Waktu pertama kali kena PHK tuh yang pasti kepikiran gimana survive dulu," ujar Imas kepada Poskota, Senin, 23 Februari 2026 kemarin.
Sempat mencoba kembali bekerja di sebuah perusahaan media yang berjarak cukup jauh dari rumah.
Baca Juga: PHK 2025 di Depok Tembus 785 Pekerja, Lebih Banyak dari 2023-2024
Ketika itu, ia memaksakan diri meski kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Dua bulan berjalan, ia justru dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani bedrest karena kelelahan.
“Ternyata fisik itu ada limitnya. Akhirnya sempat dilarikan ke rumah sakit dan bedrest dua mingguan lebih," ucap alumni Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah tersebut.
Situasi semakin sulit karena sang suami juga kehilangan pekerjaan. Dengan cicilan yang tetap berjalan dan kebutuhan rumah tangga yang tak bisa ditunda, Imas mulai memutar otak.
Ia menyadari bahwa satu-satunya modal yang masih dimiliki adalah jaringan pertemanan dan relasi profesional yang telah dibangun sebelumnya.
Baca Juga: Jumlah PHK di Kabupaten Tangerang Naik 93 Persen Sepanjang 2025
“Apa yang bisa saya bantu, gue bantuin. Nggak ngomongin angka, tapi bangun relasi dulu," beber perempuan yang berdomisili di Depok tersebut.
Dari sinilah langkah awal bisnisnya dimulai. Berbekal pengalaman aktif mengelola acara saat mondok di pesantren, ia perlahan merintis usaha di bidang public relation (PR) dan event organizer (EO).
Tanpa modal finansial, ia menawarkan jasa penulisan opini, membantu para profesional dan akademisi menuangkan gagasan mereka, hingga akhirnya mendapatkan proyek komunikasi yang lebih besar.
Imas mengaku, perjalanan itu tentu tak mulus. Penolakan demi penolakan ia hadapi saat melakukan pitching ke berbagai calon klien. Bahkan, ia mengaku lebih dari 40 kali mengalami kegagalan mendapatkan proyek. Namun dari penolakan demi penolakan itu dirinya belajar.
Baca Juga: Dampak Viral Kasus Tumbler Hilang di KRL: PHK untuk Anita dan Satu Keluarga Hadapi Teror Digital
Di tengah kesibukannya sebagai pemilik usaha, mahasiswa S2, sekaligus ibu dua anak, Imas menerapkan disiplin waktu yang ketat.
Ia memulai aktivitas sebelum subuh untuk mengecek pekerjaan, berolahraga setelah salat, lalu memasak dan mengurus anak sebelum menjalankan agenda pertemuan atau kuliah.
“Kita yang atur sendiri jadwal dari bangun sampai tidur lagi. Besok mau ketemu siapa, mau ngelakuin apa, itu kita yang atur," terang perempuan 36 tahun itu.
Motivasi terbesarnya untuk terus melangkah datang dari keluarga, terutama anak-anak dan orang tua. Sejak kecil ia tumbuh dengan semangat ingin tahu dan dorongan untuk terus maju.
Baca Juga: Komite Hiburan Malam Sebut Raperda KTR Jakarta Berpotensi Timbulkan PHK Karyawan
Dia juga ingin menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya kelak dalam mengarungi kehidupan.
“Apa yang bikin tetap yakin ya anak-anak. Gue nggak mau bikin ibu gue malu, apalagi sekarang anak-anak lihat apa yang ibunya lakukan," kata Imas.
Dari keterpurukan akibat PHK, Imas Damayanti membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir perjalanan. Dengan jaringan, ketekunan, dan kemauan belajar, ia berhasil bangkit dan menjadi sosok perempuan tangguh yang menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada keadaan.
