DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Petani timun suri di Limo, Depok menjerit saat memasuki Ramadhan karena mangalami gagal panen.
Salah satu petani timun suri, Nisan Boyeng, 63 tahun mengatakan terjadinya gagal panen akibat musim hujan yang berkepanjangan.
Pasalnya, dari awal sudah diprediksi bahwa petani akan mengalami panen raya, namun ternyata malah gagal panen.
"Persiapan penanaman selama dua bulan dan diprediksi awal ramadan terjadi panen raya. Karena terus diguyur hujan berkepanjangan sehingga mengakibatkan gagal panen. Buah timun suri jadinya pada busuk," ujar Boyeng kepada Poskota, Selasa, 24 Februari 2026.
Baca Juga: Gagalkan Tawuran di Depok, Polisi Kirim Remaja ke Pesantren Kilat
Pengalaman Gagal Panen Terburuk
Boyeng menjadi petani sudah 38 tahun lamannya, dan tahun ini merupakan pengalaman terburuknya saat mengalami gagal panen, sebab kegagalan mencapai 80 persen.
Menurutnya, sekali penanaman bisa 300 pohon dan membuahkan 300 buah timun suri.
“Tahun ini cuma 20 persen aja yang bisa dipetik, dan itu kualitas buahnya kurang baik juga,” ucapnya.
Boyeng mengungkapkan tahun ini mengalami kerugian, bahkan saat memasuki Ramadhan buah timun suri tidak bisa menutup kerugian.
Baca Juga: Warga dan Polisi Gagalkan Aksi Tawuran di Depok, 12 Remaja akan Dibina Lewat Pesantren Kilat
Kendati begitu, ia beralih bercocok tanam palawija, singkong serta ubi.
"Musim hujan timun suri gagal panen, pendapatan turun 80 persen. Untuk menutup kerugian, beralih ke singkong, ubi, serta bayam karena cocok ditanam saat musim hujan,” tuturnya.
Anak Lulus Kuliah dari Hasil Bertani
Boyeng menekuni pertanian sejak usia 25 tahun, sejak ikut orang tua. Ia tidak sempat bersekolah, tetapi mampu menghidupi empat anaknya.
Satu orang anak Boyeng berhasil lulus sarjana, sedangkan sebagian anak lainnya bekerja secara mandiri.
Baca Juga: Jalan di Depok Tergenang Luapan Kali Baru
“Dari bertani satu anak yang paling tua sudah lulus kuliah dan sekarang sudah berkeluarga. Ditambah sudah memiliki 4 cucu," tutur Boyeng.
Ia pun memaparkan jika secara normal sekali panen mencapai 300 sampai 1000 buah dan bisa dihargai Rp5 juta.
Tetapi tahun ini, mengalami gagal panen namun ia tetap bersyukur dapur rumahnya tetap ngebul.
"Untuk tahun ini yang penting bisa membuat dapur gebul saja untuk masak makan keluarga sudah alhamdullilah," pungkasnya.
