Viral Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Ini Kronologi dan Klarifikasinya

Jumat 20 Feb 2026, 14:20 WIB
Potret Dwi Sasetyaningtyas di Instagram pribadinya.(Sumber: Instagram/@sasetyaningtyas)

Potret Dwi Sasetyaningtyas di Instagram pribadinya.(Sumber: Instagram/@sasetyaningtyas)

Ia melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology pada 2015–2017 melalui pendanaan penuh LPDP.

LPDP sendiri merupakan program beasiswa yang dibiayai dari dana abadi pendidikan, bersumber dari APBN atau pajak rakyat. Fakta inilah yang membuat sebagian warganet menilai pernyataan Tyas sebagai bentuk ketidakpekaan.

Kolom komentar media sosialnya pun dibanjiri kritik. Ia bahkan dijuluki “lintah pajak” dan dituding tidak menghargai negara yang telah membiayai pendidikannya.

Baca Juga: Konflik K-Netz vs SEAblings Picu Ancaman Boikot Drakor di Asia Tenggara

Respons dan Balasan yang Picu Polemik

Alih-alih meredakan situasi, sejumlah balasan Tyas kepada warganet justru memperkeruh keadaan.

Ia membantah tudingan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan menyebut akan mendata akun-akun yang dianggap memfitnah.

Respons tersebut memicu gelombang kritik lanjutan. Warganet juga menyoroti bahwa suaminya diketahui menempuh pendidikan S2 hingga S3 dengan dana LPDP.

Isu etika kemudian mengemuka. Banyak yang menilai kebahagiaan pribadi sah-sah saja, tetapi penyampaiannya dianggap kurang bijak dan berpotensi melukai perasaan publik.

Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas

Di tengah derasnya kritik, Tyas akhirnya menyampaikan klarifikasi panjang. Ia menegaskan bahwa dirinya masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), begitu pula suami dan kedua anaknya.

Menurutnya, anak keduanya berhak atas dwikewarganegaraan karena lahir di Inggris, sesuai aturan hukum yang berlaku. Ia juga menyatakan tetap membayar pajak di Indonesia.

Tyas kemudian memaparkan sejumlah kontribusi yang diklaim telah ia lakukan sejak lulus pada 2017, di antaranya:

  • Menyusun Business Model Framework untuk pengembangan energi surya di Pulau Sumba yang dapat diunduh gratis.
  • Mengembangkan bisnis lestari yang bermitra dengan petani, pengrajin, dan UMKM lokal.
  • Menginisiasi solusi pengelolaan sampah plastik dan organik lewat gerakan #Kawankompos.
  • Menanam lebih dari 10.000 pohon bakau di berbagai wilayah pesisir.
  • Memberdayakan lebih dari 200 ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah.
  • Menulis buku bertema gaya hidup berkelanjutan.
  • Menyalurkan donasi bencana dan membangun sekolah lestari di Nusa Tenggara Timur.

Ia mengakui kontribusi tersebut masih jauh dari sempurna, namun menegaskan semuanya dilakukan dengan sumber daya pribadi dan penuh keterbatasan.

Polemik Belum Usai


Berita Terkait


News Update