Yang membuat kisah Zian semakin menarik, ia belum pernah mengikuti lomba dari tingkat kelurahan hingga nasional. Debutnya justru langsung di panggung dunia.
Kompetisi internasional pertamanya digelar di Aljazair. Saat itu, Zian hanya mampu menembus semifinal. Faktor teknik pernapasan menjadi tantangan tersendiri bagi qori cilik tersebut.
Namun kegagalan itu menjadi pelajaran berharga. Pada 2026, ia kembali berlaga dalam ajang internasional di Irak.
Dengan persiapan intensif selama satu bulan mulai dari pola makan terjaga, olahraga rutin, hingga latihan ketat bersama ayahnya Zian tampil lebih matang.
Baca Juga: 5 Film Religi Indonesia yang Cocok Ditonton Jelang Ramadhan 2026
Hasilnya, ia sukses meraih juara pertama internasional. Sebuah pembalasan manis atas kegagalannya sebelumnya.
Mental Kuat di Usia Belia
Meski masih sangat muda, mental Zian terbilang tangguh. Ia kerap diundang tampil dalam berbagai kegiatan keagamaan, bahkan pernah menjadi narasumber di televisi swasta di Iran saat Ramadan.
Karakter Zian dikenal sederhana. Ia kadang pemalu, tetapi mudah bergaul dengan peserta dari berbagai negara. Meski terkendala bahasa, ia mampu beradaptasi dengan cepat.
Di balik kesibukan mengaji dan berlatih, Zian tetaplah anak-anak pada umumnya. Ia gemar bermain sepak bola dan bercita-cita menjadi dokter.
Sosok yang menginspirasi dirinya antara lain sang kakek, serta qori dunia seperti Syekh Musthofa Ismail, Ustaz Darwin Hasibuan, dan Ustaz Syamsuri Firdaus.
Pendidikan dan Target Hafalan 30 Juz
Ke depan, sang ayah berencana membawa Zian ke Lombok untuk menyempurnakan hafalan 30 juznya. Langkah ini diharapkan memperkuat fondasi ilmu sekaligus menjaga kualitas tilawahnya.
Dukungan keluarga dan pemerintah daerah menjadi energi tambahan bagi perjalanan Zian. Pembinaan sejak dini, konsistensi latihan, serta tradisi keluarga menjadi kunci keberhasilannya.
