POSKOTA.CO.ID - Bulan Ramadhan kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta menata ulang hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Ibadah puasa yang dijalankan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari kerap dipahami secara sederhana sebagai menahan lapar dan haus.
Namun, menurut Ustadz Abdul Somad (UAS), puasa sejatinya memiliki makna yang jauh lebih dalam dan sarat dengan nilai pendidikan spiritual serta pembentukan karakter.
Dalam ceramahnya melalui kanal YouTube NUR ILMI, pada Rabu, 18 Februari 2026, UAS menegaskan, puasa Ramadhan adalah madrasah ruhani yang berlangsung selama sebulan penuh.
Setidaknya, terdapat lima hikmah utama dari ibadah puasa Ramadhan, yang jika dipahami dan diamalkan, akan melahirkan pribadi muslim yang lebih berempati, disiplin, sabar, dan bertakwa.
Hikmah Puasa Ramadhan
Adapun hikmah puasa Ramadhan menurut Ustadz Abdul Somad (UAS) selain menahan haus dan lapar.
1. Puasa Melatih Empati dan Kepekaan Sosial
Hikmah pertama dari puasa Ramadhan adalah melatih kepekaan sosial. Rasa lapar dan haus yang dialami sejak pagi hingga sore bukan sekadar ujian fisik, melainkan sarana agar seseorang mampu merasakan penderitaan orang lain.
Puasa tidak mengajarkan lapar lewat teori atau diskusi ilmiah, tetapi melalui pengalaman langsung.
Seorang yang berpuasa akan benar-benar memahami bagaimana rasanya menahan makan dan minum.
Meski demikian, lapar orang yang berpuasa masih memiliki batas waktu. Ketika azan Magrib berkumandang, makanan dan minuman telah menanti.
Berbeda dengan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Lapar mereka tidak mengenal waktu.
Pagi, siang, malam, bahkan hari demi hari, rasa lapar terus menghantui. Dari sinilah puasa menumbuhkan empati yang nyata, bukan sekadar simpati verbal.
2. Puasa Mendidik Disiplin dan Kepatuhan terhadap Waktu
Hikmah kedua adalah pendidikan kedisiplinan. Puasa mengajarkan bahwa setiap ibadah memiliki aturan waktu yang tegas dan tidak bisa ditawar.
Ketika fajar telah terbit, maka makan dan minum harus dihentikan. Begitu pula saat matahari terbenam, barulah seseorang diperbolehkan berbuka.
Puasa Ramadhan hanya berlangsung pada hari-hari tertentu, tidak lebih dari 30 hari dan tidak kurang dari 29 hari.
Seluruh ketentuan ini menanamkan kesadaran bahwa hidup seorang mukmin harus berjalan sesuai dengan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Disiplin waktu dalam puasa diharapkan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
3. Puasa Menempa Kesabaran dan Pengendalian Emosi
Hikmah ketiga dari puasa adalah melatih kesabaran. Saat tubuh lemah, tenggorokan kering, dan cuaca panas menyengat, emosi seseorang cenderung mudah terpancing.
Dalam kondisi seperti inilah puasa berperan sebagai benteng pengendalian diri.
UAS kerap mengingatkan bahwa, orang yang berpuasa diajarkan untuk menahan amarah.
Ketika dicaci, dihina, atau diajak bertengkar, seorang yang berpuasa dianjurkan mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Kalimat sederhana ini mencerminkan latihan mental yang luar biasa.
Jika seseorang mampu mengendalikan emosinya dalam keadaan lapar dan haus, maka seharusnya ia lebih mampu menjaga sikap ketika berada dalam kondisi nyaman dan kenyang.
4. Puasa Mengajarkan Perlawanan terhadap Hawa Nafsu
Hikmah keempat adalah pendidikan dalam melawan hawa nafsu. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan pandangan, ucapan, dan keinginan yang tidak diridhai Allah.
Makan dan minum sejatinya halal. Begitu pula hubungan suami istri. Namun semua itu ditahan sementara demi ketaatan kepada Allah.
Menurut UAS, jika seseorang mampu menahan diri dari perkara yang halal saat puasa, maka setelah Ramadhan ia akan lebih kuat untuk menjauhi perkara-perkara yang haram.
Puasa membentuk self-control, kemampuan mengendalikan diri, yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang mukmin.
5. Puasa Menumbuhkan Kesadaran Akan Pengawasan Allah
Hikmah kelima sekaligus yang paling mendalam adalah tumbuhnya rasa muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Puasa adalah ibadah yang sangat personal.
Tidak ada kamera pengawas, tidak ada manusia yang melihat, namun seseorang tetap menahan diri.
Di kamar tertutup, di kamar mandi dengan air yang melimpah, seseorang tetap tidak minum karena yakin Allah Maha Melihat. Kesadaran inilah yang melahirkan keikhlasan dan ketakwaan sejati.
Jika rasa pengawasan Allah ini terus dijaga, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga setelahnya, maka puasa akan melahirkan pribadi yang jujur, amanah, dan dekat dengan Allah SWT.
Melalui lima hikmah tersebut, puasa Ramadhan tidak lagi dipahami sebagai ritual tahunan semata.
Sebagaimana tujuan utama puasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni agar manusia menjadi bertakwa, maka keberhasilan Ramadhan sejatinya diukur dari perubahan sikap dan perilaku setelahnya, bukan hanya dari kuatnya menahan lapar dan haus.
