Jika seseorang mampu mengendalikan emosinya dalam keadaan lapar dan haus, maka seharusnya ia lebih mampu menjaga sikap ketika berada dalam kondisi nyaman dan kenyang.
4. Puasa Mengajarkan Perlawanan terhadap Hawa Nafsu
Hikmah keempat adalah pendidikan dalam melawan hawa nafsu. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan pandangan, ucapan, dan keinginan yang tidak diridhai Allah.
Makan dan minum sejatinya halal. Begitu pula hubungan suami istri. Namun semua itu ditahan sementara demi ketaatan kepada Allah.
Menurut UAS, jika seseorang mampu menahan diri dari perkara yang halal saat puasa, maka setelah Ramadhan ia akan lebih kuat untuk menjauhi perkara-perkara yang haram.
Puasa membentuk self-control, kemampuan mengendalikan diri, yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang mukmin.
5. Puasa Menumbuhkan Kesadaran Akan Pengawasan Allah
Hikmah kelima sekaligus yang paling mendalam adalah tumbuhnya rasa muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Puasa adalah ibadah yang sangat personal.
Tidak ada kamera pengawas, tidak ada manusia yang melihat, namun seseorang tetap menahan diri.
Di kamar tertutup, di kamar mandi dengan air yang melimpah, seseorang tetap tidak minum karena yakin Allah Maha Melihat. Kesadaran inilah yang melahirkan keikhlasan dan ketakwaan sejati.
Jika rasa pengawasan Allah ini terus dijaga, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga setelahnya, maka puasa akan melahirkan pribadi yang jujur, amanah, dan dekat dengan Allah SWT.
Melalui lima hikmah tersebut, puasa Ramadhan tidak lagi dipahami sebagai ritual tahunan semata.
Sebagaimana tujuan utama puasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni agar manusia menjadi bertakwa, maka keberhasilan Ramadhan sejatinya diukur dari perubahan sikap dan perilaku setelahnya, bukan hanya dari kuatnya menahan lapar dan haus.
