Sistem imun bawaan dapat diibaratkan sebagai perlindungan dasar yang sudah dimiliki manusia sejak lahir.
Sementara, sistem imun adaptif berkembang seiring dengan gaya hidup, asupan nutrisi, serta kebiasaan harian seseorang.
Ketika sistem imun berada dalam kondisi optimal, tubuh memiliki kemampuan untuk mengenali dan menghancurkan sel-sel abnormal, termasuk sel kanker.
Sel-sel imun seperti makrofag, neutrofil, dan limfosit bekerja aktif untuk “memakan” atau mengeliminasi sel yang rusak dan berpotensi membahayakan tubuh.
Salah satu mekanisme penting yang diaktifkan saat seseorang berpuasa adalah autofagi.
Autofagi merupakan proses alami tubuh dalam membersihkan sel-sel yang rusak, menua, atau tidak berfungsi dengan baik.
Dalam kondisi normal, proses ini tetap berjalan, namun saat puasa, intensitasnya meningkat secara signifikan.
Menurut penjelasan Dokter Zaidul Akbar, peningkatan autofagi saat puasa membantu tubuh melakukan “pembersihan internal”.
Sel-sel yang mengalami kerusakan, termasuk yang berpotensi berkembang menjadi sel kanker, akan dieliminasi secara alami.
Proses ini juga berperan dalam menekan peradangan kronis yang kerap menjadi pemicu berbagai penyakit degeneratif.
Baca Juga: Hukum Puasa Tanpa Salat, Apakah Sah? Ini Penjelasan Tegas Ustadz Adi Hidayat
Mengapa Sel Kanker Tidak Menyukai Puasa?
Puasa tidak hanya memperkuat sistem imun, tetapi juga membatasi asupan nutrisi yang menjadi “makanan” utama sel kanker.
