Perusahaan tersebut didirikan oleh Charles Lewis Tiffany bersama John B. Young di New York, Amerika Serikat, dan berkembang pesat menjadi salah satu simbol kemewahan global.
Popularitas Tiffani and Co semakin menguat setelah perhiasannya dikenakan oleh Audrey Hepburn dalam film legendaris Breakfast at Tiffany's.
Sejak Januari 2021, Tiffani and Co resmi menjadi bagian dari grup barang mewah asal Prancis, LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton, setelah diakuisisi dengan nilai fantastis mencapai US$15,8 miliar.
Akuisisi ini menjadi salah satu transaksi terbesar dalam sejarah industri barang mewah dunia.
Grup LVMH dipimpin oleh miliarder Bernard Arnault, yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Meski telah berada di bawah naungan LVMH, Tiffani and Co tetap beroperasi sebagai maison independen dengan identitas merek yang dipertahankan.
Baca Juga: Link Winda Can Main Parfum Viral, Ramai Klaim Video Lengkap Cek Faktanya di Sini!
Pasca akuisisi, posisi strategis di tubuh Tiffani and Co juga diperkuat. Alexandre Arnault, putra Bernard Arnault, dipercaya menduduki jabatan Executive Vice President.
Ia bertanggung jawab dalam pengembangan strategi komunikasi dan inovasi produk guna menjaga relevansi merek di tengah perubahan selera konsumen global.
Akuisisi Tiffani and Co memperkokoh dominasi LVMH di sektor jam tangan dan perhiasan, melengkapi deretan merek prestisius lain seperti Bulgari, TAG Heuer, Hublot, dan Chaumet.
Tak hanya itu, LVMH juga menaungi puluhan merek kelas dunia di berbagai lini industri.
Di sektor Fashion & Leather Goods, terdapat nama-nama besar seperti Louis Vuitton, Christian Dior, Fendi, Celine, Givenchy, Loewe, dan Rimowa.
