Jelang Ramadhan, Harga MinyaKita di Pandeglang Lampaui HET

Kamis 12 Feb 2026, 20:17 WIB
Pedagang minyak goreng di Pasar Badak Pandeglang saat melayani konsumen. (Sumber: Poskota/Samsul Fatoni)

Pedagang minyak goreng di Pasar Badak Pandeglang saat melayani konsumen. (Sumber: Poskota/Samsul Fatoni)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, harga MinyaKita di Pasar Badak, Pandeglang, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berdasarkan pantauan di Pasar Badak, Pandeglang, harga MinyaKita dijual warga sebesar Rp20 ribu dalam satu kemasan isi 1 liter. Padahal, untuk HET yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Menurut keterangan para pedagang, kenaikan harga sudah tejadi dalam dua pekan terakhir sehingga memicu keluhan pedagang dan konsumen.

Selain MinyaKita, harga minyak curah juga ikut naik dari yang tadinya Rp16 ribu per liter kini menjadi Rp18 ribu per liter.

Baca Juga: Sepanjang 2025, Ditreskrimsus Polda Banten Tindak 25 Kasus Kejahatan Lingkungan

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Badak Pandeglang, Rosadi mengungkapkan, kenaikan harga dipicu terbatasnya pasokan dari distributor dan meningkatnya permintaan menjelang Ramadan. 

Namun, mereka juga menilai tidak ada operasi pasar maupun intervensi untuk menekan lonjakan harga.

"Sekarang Minyakita harganya Rp20.000 per liter, sebelumnya Rp17.000. Kalau yang curah dari Rp16.000 jadi Rp18.000. Barangnya ada, tapi stoknya tidak banyak dan kami juga sulit dapat barang," ungkap Rosadi, Kamis, 12 Februari 2026.

Rosadi menyebut bahwa harga minyak dari pihak distributor kini juga sudah naik. Jika sebelumnya MinyaKita dipasok dengan harga di bawah Rp200.000 per dus, kini mencapai sekitar Rp215.000 per dus. 

Baca Juga: Kopdes Merah Putih di Pandeglang Siap Tunjang Kebutuhan Pangan MBG

Kenaikan tersebut membuat dirimya dan pedagang lain tidak mungkin menjual sesuai harga sebelumnya.

"Biasanya masih di bawah Rp200.000 per dus, sekarang sudah Rp215.000-an. Kenaikan jelang Ramadan memang biasa, tapi kali ini lebih tinggi dan stok juga terbatas," kata dia.

Akibat kenaikan tersebut, Rosidi mengaku omzet penjualan minyak goreng turun hingga 40 persen. 

"Pembeli tetap ada, tapi berkurang. Omzet turun karena harga mahal," ujarnya.

Baca Juga: 576 Jemaah Haji Cimahi Siap Diterbangkan ke Tanah Suci

Sementara itu, salah seorang konsumen, Ade merasa keberatan dengan lonjakan harga menjelang Ramadan saat kebutuhan rumah tangga meningkat.

"Sekarang Rp20.000 per liter. Kemarin masih Rp18.000. Mau puasa dan lebaran kebutuhan pasti lebih banyak. Pengeluaran jadi makin besar," kata Ade.

Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah dalam menangani lonjakan harga kebutuhan poko. Agar tidak semakin membebani masyarakat. 

"Dulu bisa seharga Rp16.000, sekarang Rp20.000, berat banget," ujarnya. (fat)


Berita Terkait


News Update