"Biasanya masih di bawah Rp200.000 per dus, sekarang sudah Rp215.000-an. Kenaikan jelang Ramadan memang biasa, tapi kali ini lebih tinggi dan stok juga terbatas," kata dia.
Akibat kenaikan tersebut, Rosidi mengaku omzet penjualan minyak goreng turun hingga 40 persen.
"Pembeli tetap ada, tapi berkurang. Omzet turun karena harga mahal," ujarnya.
Baca Juga: 576 Jemaah Haji Cimahi Siap Diterbangkan ke Tanah Suci
Sementara itu, salah seorang konsumen, Ade merasa keberatan dengan lonjakan harga menjelang Ramadan saat kebutuhan rumah tangga meningkat.
"Sekarang Rp20.000 per liter. Kemarin masih Rp18.000. Mau puasa dan lebaran kebutuhan pasti lebih banyak. Pengeluaran jadi makin besar," kata Ade.
Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah dalam menangani lonjakan harga kebutuhan poko. Agar tidak semakin membebani masyarakat.
"Dulu bisa seharga Rp16.000, sekarang Rp20.000, berat banget," ujarnya. (fat)
