Lebih lanjut, Fadli menegaskan, kebudayaan harus ditempatkansebagai fondasi utama dalam pembangunan nasional. Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai kompas moral dan identitas bangsa, tetapi juga sebagai jalantengahyang mampu menghadirkan solusi di tengah kompleksitas persoalan sosial, politik, danekonomi global.
“Budaya bukan hanya sebagai kompas, namun juga jalan tengah, sebuah ruangsolusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture menjadi fondasi dalam konstruksi identitas bangsa dan memastikan bahwa pembangunan ekonomi, sosial, dan politik berjalan seimbang, berkelanjutan, dan berakar padajati diri bangsa,” tuturnya.
Pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Fadli didasarkan penilaian Unas melalui pertimbangan akademis yang komprehensif. Pengukuhan ini didasarkan pada rekam jejaknya sebagai politisi-akademisi, intelektual, dan budayawan yang secara konsisten merawat memori kolektif bangsa melalui pemikiran, karya, serta aksi nyata di bidang sejarah dan kebudayaan.
Keterhubungan pemikirannya dengan Prof. Sutan Takdir Alisjahbana, salah seorang pendiri Unas menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya, terutama dalam memandang kebudayaan sebagai energi hidup yang harus menjadi basis strategi pembangunan nasional.
Rekam jejak akademiknya tercermin sejak masa mahasiswa sebagai peraih berbagai penghargaan, hingga kiprahnya sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia serta dosen tidak tetap Unas sejak 2018.
Baca Juga: Menbud Fadli Zon Dorong Pemerintah Pusat dan Daerah Sejahterakan Pelaku Kebudayaan
Produktivitas intelektualnya terwujud dalam lebih dari 40 buku serta berbagai karya tulis dan jurnal nasional maupuninternasional di bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan. Universitas Nasional juga mencatat komitmen kuat Menteri Fadli Zon dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan melalui pendirian Fadli Zon Library, pengelolaan museum, serta rumah budaya yang telah menyelamatkan ribuan artefak dan naskah kuno, serta meraih puluhan penghargaan nasional dan internasional.
Selain itu, rekam jejak kepemimpinan di tingkat nasional dan global, baik sebagai pimpinan lembaga negara, Menteri Kebudayaan, maupun pembicara di berbagai forum strategis, turut menjadi pertimbangan utama dalam penganugerahan ini.
Menutup orasinya, ia menegaskan, kebudayaan merupakanfondasi penting dalam membangun peradaban dan memperkokoh persatuan bangsa. Iajuga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Universitas Nasional danseluruhsivitas akademika atas kepercayaan serta kehormatan yang diberikan melalui penganugerahan gelar Profesor Kehormatan.
Acara pengukuhan dihadiri Ketua MPRRI Ahmad Muzadi, Menteri Koordinator Bidang Panjang Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator BidangHukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Kepala BRIN Arif Satria, jajaran Anggota DPR RI, jajaran Kementerian Kebudayaan, jajaran Guru Besar, sivitas akademika Unas, serta para Duta Besar negara sahabat.
