POSKOTA.CO.ID - Keimanan terhadap qada dan qadar merupakan salah satu pilar dasar dalam ajaran Islam. Meski demikian, memahami kedua konsep ini sering kali menjadi tantangan, terutama ketika kehidupan menghadirkan episode-episode pahit yang sulit diterima.
Dalam sebuah podcast di channel Youtube @Pandji Pragiwaksono dalam tema Putbal berjudul "SUSAHNYA BERIMAN KEPADA QADA & QODAR PART 2", ustaz Felix Siauw memberikan penjelasan tentang bagaimana umat Islam seharusnya memaknai takdir serta batasan antara wilayah ikhtiar dan ketetapan ilahi.
Baca Juga: Niat Puasa Ramadhan Harus Setiap Malam atau Cukup Sekali? Ini Penjelasan Lengkapnya
Makna Qada dan Qadar dalam Realitas Kehidupan
Qada: Ketetapan yang Tidak Bisa Dipilih
Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa qada merupakan ketetapan Allah atas sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia untuk memilih. Contohnya adalah jenis kelamin, keluarga tempat seseorang dilahirkan, kondisi fisik, dan berbagai ketetapan awal kehidupan.
Ustaz Felix Siauw menjelaskan “Ada hal-hal yang memang berada sepenuhnya di luar kuasa manusia. Itulah qada. Bagian itu bukan untuk dipertanyakan, melainkan untuk diterima.”
Qadar: Kadar dari Setiap Ketetapan
Berbeda dari qada, qadar adalah ukuran atau kadar yang menyertai takdir tersebut. Sejumlah peristiwa dalam hidup hadir dalam intensitas yang berbeda pada setiap orang.
Contoh ini bisa dianalogikan melalui seorang perempuan yang mengalami perceraian, tidak mampu memiliki anak, hingga merasa hidupnya berulang kali ditimpa kesedihan.
Ustaz Felix Siauw berkata “Kadar kesedihan orang berbeda-beda. Bukan berarti ia tidak boleh berusaha. Namun ada kalanya seseorang menghadapi kadar ujian yang memang sudah ditetapkan Allah untuknya.”
Belajar dari Rasulullah soal Ketabahan dan Ikhlas dalam Takdir
Dalam peristiwa Perang Uhud, Rasulullah kehilangan 72 sahabat, termasuk paman tercintanya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Luka tersebut diperparah oleh tindakan keji Hindun yang menggigit hati Hamzah.
Namun, menurut ulasan ustaz Felix Siauw “Meski manusiawi merasakan sedih dan marah, Rasul tetap memaafkan orang-orang yang kemudian masuk Islam. Inilah puncak penerimaan terhadap qada dan qadar.”
Teguran Allah kepada Rasulullah
Ketika Abu Thalib, paman yang sangat dicintainya, wafat tanpa keimanan, Rasulullah merasa gagal. Lalu turunlah ayat:
