Ramadhan 2026: Mengapa Beriman kepada Qada dan Qadar Susah? Ini Penjelasan Menurut Ustaz Felix Siauw

Selasa 10 Feb 2026, 14:54 WIB
Seorang muslim bersujud dalam doa, melambangkan penerimaan terhadap qada dan qadar serta keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. (Sumber: Pexels)

Seorang muslim bersujud dalam doa, melambangkan penerimaan terhadap qada dan qadar serta keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. (Sumber: Pexels)

Innaka la tahdi man ahbabta walakinnaLlaha yahdi mayyasya’

“Wahai Muhammad, bukan engkau yang memberi hidayah. Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” Pesan ini menegaskan bahwa manusia tidak mengendalikan hasil, hanya usaha.

Bekerja dalam Islam adalah Wujud Ikhtiar dan Syukur

Ustaz Felix Siauw menjelaskan bahwa banyak umat Islam merasa bingung antara kerja, hasil, dan takdir. Menurutnya, salah satu faktor terbesar stres adalah tujuan yang keliru.

Ia menegaskan “Kalau tujuan kerja semata-mata untuk uang, maka kekecewaan adalah keniscayaan. Dalam Islam, kerja adalah bentuk syukur, bukan mesin pencetak rezeki.”

Rezeki ditetapkan oleh Allah, sedangkan kerja adalah bentuk pengabdian. Sebab itu, hasil tidak selalu sebanding dengan upaya. Namun upaya tetap wajib dijalankan.

Menerima Takdir Bukan Berarti Pasrah Buta

Kesalahpahaman Masyarakat: Takdir Dijadikan Alasan Malas

Banyak orang mengira bahwa takdir menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Padahal, yang ditekankan ustaz adalah keseimbangan:

“Takdir bukan untuk mematikan ikhtiar. Justru ikhtiar adalah bagian dari keimanan.” ujar ustaz Felix

Contoh lain, seseorang yang merasa hidupnya sulit menemukan jodoh, atau merasa trauma karena masa lalu keluarga. Dalam situasi seperti ini, Islam mengajarkan dua hal:

  • Lakukan yang masih bisa diupayakan.
  • Terimalah hal yang berada di luar kuasa.

Dalam podcast dimenit akhir bersama Pandji, ustaz Felix Siauw menceritakan sebuah contoh kehidupan dari seorang perempuan dalam sejarah Islam yang mengidap epilepsi mendatangi Rasulullah untuk meminta kesembuhan. Rasul menawarkan pilihan:

  1. Disembuhkan.
  2. Bersabar dan mendapatkan jaminan surga.

Perempuan tersebut memilih:

“Aku memilih bersabar dan memilih surga, ya Rasul.”

Namun ia meminta satu permohonan:


Berita Terkait


News Update