“Harapannya semoga karya-karya ini bisa menjadi inspirasi buat kalian, mengasih ekspektasi yang bagus, membuat kalian merasa nyaman dan juga tidak sendirian,” harap Kaleela.
Dari sekian karya yang ditampilkan Kaleela adalah gaun perempuan bercorak cokelat yang tersimpul dengan berbagai macam peralatan rumah tangga, seperti sebotol minyak goreng dan templon. Lewat karya ini, Kaleela ingin menyampaikan pesan bahwa meski sedang di 'atas' seorang perempuan tetap harus melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga.
Baca Juga: Suzuki e VITARA Hadir dengan Banyak Kelebihan, dari Fitur Safety hingga Garansi Panjang
Sementara itu Anastacia, menampilkan karya yang mengangkat isu standar kecantikan serta tekanan sosial yang kerap dialami perempuan. Ia menggambarkan bagaimana tuntutan masyarakat terhadap penampilan sering kali tidak terlihat secara kasatmata, namun dapat menimbulkan luka baik secara internal maupun eksternal bagi perempuan yang mengalaminya.
“Kalau dari booth aku sih tentang beauty standard dan adanya tekanan dari society, di mana tekanan ini memaksakan perempuan untuk menjadi lebih baik secara penampilan. Tekanan ini kadang tidak terlihat, tapi bisa melukai diri secara internal dan juga eksternal,” beber Anastacia.
Melalui karyanya, Anastacia, berharap pesan yang disampaikan dapat membuat perempuan lebih sadar akan nilai diri mereka. Kemudian juga tidak terus-menerus merasa harus memenuhi standar tertentu demi diterima oleh lingkungan sekitar. Melalui karyanya, dia ingin menegaskan, perempuan juga tidak harus selalu tampil sempurna atau terus dipaksa menjadi lebih baik.
“Semoga orang-orang yang melihat ini bisa lebih sadar kalau mereka tidak sendiri, dan tidak semua orang memandang mereka dari penampilan saja," ucap Anastacia.

Guru DP Art Binus SCHOOL Simprug, Ricky Akbar mengaku puas dan takjub melihat karya seni para siswa. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran seni tidak hanya menekankan praktik, tetapi juga pemahaman sejarah serta perkembangan art movement di dunia dan Indonesia, mulai dari gaya klasik seperti gotik hingga aliran modern dan kontemporer.
“Anak-anak belajar sejarah seni dari berbagai zaman, mulai dari gotik, impresionis sampai kontemporer. Mereka jadi paham kenapa seni terbentuk dan bagaimana pergerakan seni itu berkembang,” ujar Ricky.
Ricky menambahkan, pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing siswa. Meski ada yang lebih tertarik pada animasi atau digital art, mereka tetap diwajibkan mempelajari berbagai teknik dasar seperti sculpture, printmaking, silkscreen, hingga pembuatan karya tiga dimensi.
"Di kelas 11, siswa mulai melakukan eksplorasi dan eksperimen sebelum akhirnya menentukan tema dan identitas artistik mereka, apakah lebih condong pada isu sosial, fantasi, pop art, atau pendekatan lainnya," beber Ricky.
Baca Juga: Profil Putri Intan Kasela: Usia, Orang Tua, dan Perannya sebagai Rusmiati di Film Kuyank 2026
